life is a big joke

Jangan biarkan ide muw usang dimakan waktu, tuangkanlah dalam goresan tinta keabadian.....

lie, for her better life...

Rabu, 05 Januari 2011

Percakapan ini kuw lakukan disaat hujan deras mengguyur disekelilingkuw, adalah dia yang datang padakuw dan menceritakan apa yg tlah ia alami...

Matanya tampak begitu kelam, tak ada secerca sinar yg dapat kuw lihat dari matanya namun ia tetap tersenyum ketika mulut kuw hendak mengatakan sesuatu, “aku baik-baik saja, tak usah kau cemaskan bahasa tubuhkuw”, sembari menepuk bahukuw dan ia pun tertunduk menatap dinding teraskuw yg kini mulai basah….

Ia pun melanjutkan ceritanya padakuw, cerita yang selama ini membuatnya bahagia (walaupun kuw tahu itu tak seindah dengan harapannya). Ia berkata pada kuw bahwa sekarang ia tlah bahagia, karena wanita yang sangat ia sayangi telah menemukan tambatan hatinya dan tengah berbahagia disana….

“Aku pun heran namun aku tak punya kuasa untuk menahan ia menceritakan apa yang tengah ia rasakan”

“Yahhh aku harus bertanggung jawab”, katanya yakin menatap kuw, dulu aku tlah membuat ia jatuh cinta padakuw, namun seiring berjalannya waktu aku sadar bahwa aku tak cukup baik untuknya, aku tak seperti yang ada didalam mimpi indahnya….

Dan akhirnya dia pun memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kami lagi, “but actually it’s ok” pinta kuw dalam hati….
Walaupun kami tlah memutuskan hubungan namun jalur komunikasi antara kami tetap terpelihara, saling mengingatkan merupakan kebiasaan kami ketika malam mulai meredup…

Waktu trus berjalan dan aku mulai sadar akan keinginan dia untuk untuk mendapatkan SOMEONE NEW (setidaknya itulah yg sering ia tuliskan disalah satu jaringan social miliknya), dan aku pun sadar semua kini tlah berubah dan sebagai lelaki yg pernah disampingnya aku harus bertanggung jawab dan membantunya untuk mendapatkan SOMEONE NEW sesuai yang ia dambakan…

Dan pada hari itu aku pun berusaha untuk membantunya, dan cara pertama yang kuw lakukan yakni membuat agar ia dapat membenci kuw sedemikian mungkin, semua hal yang ia tak senangi aku lakukan… semua ini kuw lakukan agar ia dapat keluar dari bayang-bayang tentang kuw, KRITIKAN, ia sangat tak senang untuk dikritik dan aku pun memulainya dari sisi itu…
Aku acap kali memberinya kritikan pedas secara berulang kali sehingga ia pun mulai merasa tak nyaman dengan kuyw lagi….
(walaupun pahit semua ini harus tetap kuw lakukan hanya untuk dapat melihatnya tersenyum kembali)

Kehidupan pun silih berganti menghampirinya, begitu pula dengan SOMEONE NEW… ada begitu banyak yg datang dan pergi namun ia tetap belum dapat menemukan apa yagng iua harapkan…
Aku pun menghela nappas yang dalam dan berfikir’ “aku harus membantunya lebih giat lagi dan tentunya aku harus membuatnya lebih membencikuw agar ia dapat melupakan kuw”….


Semua ini kuw lakukan atas dasar tanggung jawabkuw yg pernah hadir dihidupnya berada disampingnya dan merusak mimpi-mimpinya…
Hari berganti hari bulan berganti bulan kini sgala sesuatunya tak seperti dulu lagi, kini ia tlah dapat melupakan kuw sepenuhnya walaupun terkadang bayang kuw selalu hadir disela-sela pejaman matanya…
Namun kini kuw dapat tersenyum , setidaknya ada hasil kini yg dapat kuw petik dari usahakuw untuk mewujudkan mimpinya…
Seiring berjalan waktu dan hadirnya beberapa SOMEONE NEW yg ia harapkan, akhirnya ia dapat menemukan SOMEONE NEW yg sesuai ia harapkan…

Aku tersenyum manis dan berpesan…
Salam kebahagian untuk muw selalu semoga kau selalu diselimuti mimpi yang indah…
Maaf aku harus berbohong padamuw, dengan berpura-pura melakukan semua hal yang tak kau senangi…
Tapi sesungguhnya aku hanya ingin membantu muw mewujudkan angan muw (seperti yang tertera disalah satu jaringan social milikmuw)
Aku pun terdiam mendengar cerita sahabat kuw, aku pun menepuk dadanya….
Namun aku kaget !!! ia tetap bisa tersenyum menatap kuw dan beranjak pergi bersama sang hujan yang kini tlah mulai meredah…
Mungkin rintikan hujan itu merupakan tetesan air matanya, aku tahu dibalik senyuman tegar sahabat kuw itu ada sebuah kesedihan yang mendalam yg coba ia sembunyikan dari dalam hatinya…
Pergilah sobat bersama mimpi-mimpi muw kuw tahu gadis itu juga sangat menyayangi muw dan sebuah kesalahan besar karena ia telah memilih orang yang ia sayangi ketimbang orang yg menyanyaginya...
kuw kan slalu menunggu muw disini sobat kuwonly time will heal…

Malam trus berlalu, dan tiba-tiba aku pun mulai membuka kedua mata kuw dan terbangun dari benaman mimpikuw…
Saat itu pula fajar tlah menyongsong menampakkan sinarnya…

Ohhh ia sebelum aku mengakhiri tulisan kuw ini, sahabat yang kuw maksud dalam tulisan ini yakni bunga mimpi kuw yg selalu menemaniku diredupan mata kuw…

Social interaction Vs Proporsionalisme

Minggu, 02 Januari 2011

Bismillahirahmani rahim…
Okey 1st from 2011…

Hari ini lagi-lagi merupakan hari yang sangat biasa buat saya bagi seorang mahasiswa. Sebenarnya setiap hari merupakan hari biasa buat saya, karena saya tengah menjalani liburan panjaaaaaang sekaliiiiii. Kesibukan saya yah begitu2 saja, kalau tidak kekampus yaahhhh paling stay at home.

Nothingout of the ordinary....
Tapi justru dari hari-hari biasa inilah saya bisa mempelajari sesuatu yang kadang-kadang tidak saya sadari sama sekali.
Semoga setelah membaca tulisan ini, kalian akan mengerti apa yang saya maksud "Belajar dari hal-hal yang biasa”.
Jadi, hari ini saya seperti biasanya bangun disiang hari yang merupakan rutinitas saya sehari-hari, mumpung lagi libur semester jadi porsi tidur saya lebih diperpanjang (hitung-hitung menghemat energi. Hehehe).
Ok…
Setelah lama tidur dari kegiatan tulis-menulis di dunia maya, di 1-1-11 ini kuw coba kembali mencoretkan secerca hal yang menurut saya agak aneh….
Ohhh yah sebelumnya sikon aku sebenarnya tidak terlalu sehat, flu berat menghampiri… yah mungkin karena over dosis di acara tahun baru.

Lets begin..
Belakangan ini ada begitu banyak kejadian aneh yang menurut saya merupakan suatu kejadian hilang akal sehat (all about emotion)…
Yahhh mungkin itu bisa mewakili penjelasan dari judul yang kuw angkat sekarang ini, ketika profesionalisme diperhadapkan dengan interaksi sosial. , dimana titik tekan dari tulisan ini yakni pendewasaan diri.

For example :
ada orang (A) yang di dalam esbuah rapat sedang berbeda pendapat dengan orang lain (B)…perbedaan pendapat ini memicu adu argumentasi..ok kita anggap saja si B menang argumentasi atas A…lalu stelah rapat, di luar ruang rapat si A ini masih menyimpan dendam atas kekalahannya dari si B, lalu si A ini jadi berlaku sinis pada si B (sampe ke dalam hati dan akhirnya dendam membara) hahahahahaha
could u imagine this one ?

Peka Ruangan
hal2 seperti ini semestinya sangat memalukan… kenapa?
yaaaa urusan di dalam ruang rapat cukup sampai disitu saja! tidak usah dibawa2 sampai ke luar ruangan, kalo berbeda pendapat, apalagi sampe berbeda prinsip, cukup satu ruangan rapat saja yang tahu…tidak usah dimasukkan ke hati…apalagi sampai dendam membara dan akhirnya rada-rada sensitive (sok hiperbola)
jadi sodari dan sodara yang pernah sinis, dendam, atau marah pada seseorang di dalam sebuah rapat, cukup sampai pada pintu ruangan rapat saja…diluar pintu itu adalah menjadi hubungan sosial lagi dan kalian smua jangan membawa-bawa apa yang ada di dalam rapat…jangan didendam…apalagi sampai menyebar gosip….(bisa kena UU pencemaran nama baik…)
hehehehehe…

Hubungan Kerja vs Hubungan Sosial
Al seperti inlah yang kemudian bisa dibilang tidak profesional…kenapa?
yah orang-orang yang seperti itu yang tidak bias membedakan mana hubungan kerja dan mana hubungan sosial…seharusnya hubungan kerja tidak disangkut-pautkan dan dicampuradukkan dengan hubungan sosial…jadi apa yang terjadi di dalam hubungan kerja sebaiknya tidak dibawa2 pula kepada hubungan sosial…
Selesaikan Masalah
Kalau ingin menyelesaikan masalah dengan orang yang bersangkutan, yahhh diselesaikanlah di dalam rapat…bukan diselesaikan di luar rapat (di hubungan sosial)…adalah pengecut sekali bagi anda yang menyelesaikan dengan cara seperti itu dan tidak di dalam sebuah forum rapat…
Yahhhh kalau di ruang barulah diselesaikan masalah tersebut.mau berdebat, saling memaki,teriak-teriak, lempar kursi, yang penting selesaikanlah masalah itu dengan bijaksana , setelah itu diluar ruangan rapat, yaaahhh hubungan kerja hilang dan menjadi hubungan sosial lagi…

Analogi
Jika di dalam sebuah pertandingan sepak bola,ketika Syamsul Haeruddin sedang membawa bola menuju pertahanan PSM yang dikawal oleh Djayusman Triadi, lalu Djayusman Triadi mensliding (mentackle) Syamsul Haeruddin dengan keras dan jatuh terguling2 lah si Syamsul …
Walaupun sudah giring bola jauh-jauh dari tengah lapangan dan selangkah lagi ingin cetak gol terus tiba2 di sliding (tackle) keras sampai jatuh Ta’bulinta tapi begitu peluit panjang ditiup oleh wasit menandakan 90 menit permainan telah usai , dan si Djayusman mendatangi Syamsul untuk bertukar kaos, dengan sikap sportif si Syamsul bertukaran kaos dengan Djayusman, lalu saling becanda2 dan berpelukan
itu yang namanya profesional dan sportif!!
disamping mereka membela tim nasional yang sama, para olahragawan ini juga udah dididik akan sportivitas yang tinggi…seandainya sportivitas semacam itu diterapkan di lingkungan sekitar kita, di kelompok2 sekitar kita, apakah itu OSIS, senat, himpunan, BEM, atau bahkan mungkin di telekrasi (birokrasi yg bertele-tele) skalipun, mungkin takkan ada lagi benci, takkan ada lagi dendam… nyanyikan semua lirik yang sama “nanananananananananana” (some lyrics from rocket rockers)

they have lost my respect....
Tidak peduli mereka seumuran, lebih muda, atau lebih tua. Yang harus direnungkan adalah.........
Are we truly better than they are? Think again.

Semoga Semua tetap tersenyum, semoga semua selalu damai, tentram didalam selimut kebahagiaan.
atas nama perubahan ke arah yang lebih baik dan bentuk tanggapan atas tulisan kuw “Kiat Tepat Hadapi Kritik” maka saya melakukan perubahan ini demi sodara-sodari semua…
tulisan ini saya dedikasikan khusu buat kalian agar supaya merasa sedikit risih dan terketuk pintu hatinya…mudah-mudahan saja kalian semua yang mengerti bisa berubah ke arah yang lebih baik demi stabilitas negara dan perdamaian dunia…amin?
Tulisan ini juga dipublikasikan di http://www.facebook.com/profile.php?id=100000746749776#!/profile.php?id=100000746749776

Rabu, 22 Desember 2010

rindu yang membelenggu sukma
begitu banyak kenangan yang tlah terukir
canda tawa, suka duka yang terbalut dalam kisah
hingga kuw selalu mengkhayalkannya

disetiap langkah muw...
selangkah tuk meninggalkan semuanya
kuw smakin diam tak berdaya
lemah terpaku menatap dunia

dijejak ingin muw melupakannya
kenanglah semuanya...

makassar, 21 desember 2010
ditengah hingar bingar asap jalanan....

Senyum yg terlupakan

Jumat, 10 Desember 2010

Hari ini lagi-lagi merupakan hari yang sangat biasa buat saya bagi seorang mahasiswa. Sebenarnya setiap hari merupakan hari biasa buat saya, karena saya tengah menjalani liburan panjaaaaaang sekaliiiiii. Kesibukan saya yah begitu2 saja, kalau tidak kekampus yaahhhh paling stay at home.


Nothingout of the ordinary...
.


Tapi justru dari hari-hari biasa inilah saya bisa mempelajari sesuatu yang kadang-kadang tidak saya sadari sama sekali.

Bingung?
Jelas saja, orang saya belum jelaskan apa yang saya alami hari ini.....
Hehe....

Semoga setelah membaca tulisan ini, kalian akan mengerti apa yang saya maksud "Belajar dari hal-hal yang biasa." (Kalau masih tidakmengeti pakow Itu namanya GOBLOK)

Jadi, hari ini saya seperti biasanya bangun disiang hari yang merupakan rutinitas saya sehari-hari, mumpung lagi puasa jadi porsi tidur saya lebih diperpanjang (hitung-hitung menghemat enrgi. Hehehe).

Ok lets start with the story...

Bangun tidur seperti biasanya pukul 01.00 PM, sehabisitu saya langsung menuju kekamar mandi untuk mandi dan bersiap kekampus untuk mempersiapkan penerimaan mahasiswa baru yang kebetulan saya merupakan salah satu panitianya. Sehabis mandi berangkatlah saya menuju kampus, kebetulan mobil pribadi saya telah menunggu diluar jalan (alias Pete-pete). Kejadian yang saya maksud terjadi dalam perjalanan menuju ke kampus.

Jadi saya naik pete-pete untuk pergi ke kampus. Jadi waktu saya menyetop pete-pete,untuk memastikan bahwa saya naik pete yang benar (karena setahu saya pete berkode sama punya 2 jalur BTP-SENTRAL & BTP-DAYA), jadi saya tanya dulu, "kota, daeng?" dan jawabannya biasa sekali, "Ye, Betul naik maki" sambil tersenyum.

Biasa..... Tapi nadanya sangat ramah dan melihat supir-supir pete lainnya pada umumnya, biasanya mereka hanya menganggukkan kepala bahkan tanpa melihat ke orang yang bertanya, senyum pun tidak.

Saya menyadari ada yang "berbeda" dengan supir pete-pete yang ini. Dia menunggu sampe saya benar-benar duduk, baru jalan. Cara menyetirnya juga tidak ugal-ugalan. Suatu hal yang sangat sulit ditemui di Makassar zaman sekarang apalagi melihat tipikal orang Makassar. Kemudian saya duduk tepat dibelakang pak supir yang tengah beraksi menjalankan laju kendaraannya. Di tengah jalan, ada satu hal lagi yang membuat saya kaget. Saat seseorang turun, saya mendengar satu kata yang TIDAKPERNAH sekalipun diucapkan puluhan supir angkot yang telah saya tumpangi."Terima kasih." Ternyata begitu saya turun, dia juga mengucapkan hal yang sama, dan saya bisa melihat senyumnya saat saya menyerahkan tiga lembaran uang bergambar Pattimura yang sudah kusut oleh tangan-tangan pemilik sebelumnya.


Hal ini membuat saya berpikir dan merenung. Supir pete-pete yang sering dicap sebagai manusia yang tak tahu aturan, main serobot sana sini.Nyatanya baru-baru ini, saat saya di undangan buka puasa dan mengantri makanan,saya diserobot oleh manusia berjas hitam berambut klimis yang pasti mengakui bahwa derajat dirinya lebih tinggi dari supir pete-pete tapi berkelakuan seperti anak kecil miskin yang kurang makanan. Supir pete-pete juga sering dikenal sebagai orang tak berpendidikan yang tak tahu sopan santun.


Nyatanya banyak juga teman-teman yang sering lupa atau malah gengsi mengucapkan terimakasih, maaf, tolong, saat mereka harusnya mengucapkannya.

Terima kasih adalah hal yang harusnya sangat biasa.Namun belakangan ini saya sering menemui orang yang tak mengucapkan terima kasih dimana dia seharusnya mengucapkannya. Kesalahan besar !!!!

They have lost my respect....
Tidak peduli mereka seumuran, lebih muda, atau lebihtua. Yang harus direnungkan adalah.........
Are we truly better than they are? Think again.



a game called "LPG's"

Hai semua dari yang tua sampai yg muda,BERGERAK !!!!

Hari ini aku lagi merasa kebanyakan berfikir, jadi dari pada pikirannya sia-sia mungkin baiknya sebagian aku tuang di sini. Tema tulisan saya kali ini adalah : (lagi-lagi) kebijakan pemerintah negara 1. saya tadi sedang maen "role playing game" bernama otak Ritchie melalui kotak hitam diruangan 2X1 M. Game ini berjudul Mafia LPG's, di mana saya memposisikan diri sebagai pemerintah, dan seorang insignificant other sebagai dia.


Tokoh utama dalam permainan itu adalah pemerintah berinisial Jay-K (diperankan o/ Mr.D). Jay-K ini mempunyai seorang asisten berinisial Si BY, yang menjadi teman perjalanannya yang pendiam,padahal menurut cerita, Si BY mrupakan mantan atasan Jay-K. Ceritanya, Jay-K sedang mencari cara yang ampuh untuk membasmi granat masyarakat (konon disebut LPG's)di suatu negara (kita sebut saja negara I).

"I wanna play it dumb"

Jadi yang saya lakukan adalah mengambil keputusan dan kebijakan yang irasional dan tentunya saya tahu akan banyak mengundang protes maupun kontroversi dari berbagai pihak, seperti memblokir akses penjualan ke mucikari-mucikari granat. Asumsikan bahwa saya bukan orang yang mengerti tentang LPG's.Dengan begitu, saya akan terlihat bodoh, dan orang2 pintar dan sok pintar akansegera membuat kebijakan2 atau apapun yang secara blak2an menyatakan apakekurangan dari keputusan dan kebijakan saya. Dan mengenai masalah itu, saya akan meng-employ beberapa intel yang akan melacak keberadaan mucikari2 dan granat tersebut (LPG's).

Tak lama kemudian saya akan menerima hasil tulisan dari berbagai orang yang mengeluhkan, mendukung, mengkritik, meralat keputusan saya tersebut, sampai yg menjadi korban LPG's "granat masa kini". Dengan banyak membaca tulisan2 dan aspirasi rakyat, saya jadi tahu dan paling tidak kenal secara sepintas sub-sub dalam merakit LPG's sekarang, seperti mendeteksi main target khususnya bagi si kantong kering yang ditulis oleh seorang insignificant person dari generasi muda.Selain itu, saya jadi "sadar" akan kesalahan saya , dan akan merevisi keputusan dan kebijakan saya, meminta maaf yang sebesar2nya, dan mengatasi masalah berdasarkan keluhan dan aspirasi rakyat saya, bersama2 dengan intel2 dan tenaga kerja yang bermutu dan jujur akhirnya saya mengerti apa yang harus saya lakukan.

Dengan begitu saya berharap akan memenangkan permainan ini. saya berharap akan mampu menciptakan penjinak LPG's darinegara I. Tapi ternyata perjalanan menuju negara yang benar2 bersih bukanlah perjalanan yang mulus. saya dihadang oleh rintangan yang tak sedikit. Apalagi setelah mengetahui fakta bahwa di negara I, mayoritas dari rakyatnya menentang kebijakan saya. Mereka masih ketagihan dengan keuntungan yg dihasilkan dari LPG's dan belum bisa lepas. Ingin rasanya saya membasmi mereka semua yang nongkrong di gedung kura2 bersama segala nafsunya dengan ledakan granat ganas,berondongan AK47, rentetan dual baller milik Hitman, tembakan headshot menggunakan Sniper Rifle MosinNagant, ataupun dengan cara konvensional : pake bambu runcing. Sayangnya, bambu runcing tdk terdaftar dalam permainan.

tidak cuma itu, ternyata setelah rintangan tersebut selanjutnya akan ada rintangan lagi yg cukup berat dan ini kusebut rintangan alay, yaitu bahwa ternyata teman2 saya (dan kadang2 saya sendiri, kalo lagi butuh) masih suka korupsi apapun yang bisa dikorupsi. Rintangan alay saja sudah merupakan beban bagi saya, apalagi saya juga harus membasmi seorang raja terakhir dalam permainan ini, yang berbadan satu, berkepala tiga, dan berwujud mengerikan. Kepala yang tengah bernama Korupsi, yang kiri bernama Kolusi, dan yang kanan bernama Nepotisme.

Game ini merupakan game yang unik,karena di akhir game, bukan pemeran utama yang menang, tapi musuh utamanya. Dibagian ending, tampak seorang insignificant person berdiri di dekat situ, tak tersentuh oleh monster berkepala tiga tersebut, geleng2 kepala sambil tersenyummisterius ke arah Jay-K yang jatuh ke dalam jurang kegagalan.

Bingung karena ceritanya menggantung?Tenang saja, dilihat dari keadaannya sekarang, tampaknya game ini akan berlanjut dan berganti karakter utamanya seiring waktu, dibuat sekuelnya,mungkin jadi Kebijakan Pemerintah II, Kebijakan Pemerintah III, sampai makhluk three-in-one tersebut mati dan kalah. Tapi yang memproduksi game ini terlalu takut untuk memikirkan kelanjutan game ini, ia takut game ini menjadi terlalu panjang dan tak ada habisnya.

Takut jadi seperti Tersanjung atau pun cinta fitri.

Yang saya lakukan adalah mematikan console imajiner bernama otak Ritchie dan segera kembali ke dunia nyata.

Seorang insignificant person terbangundari imajinasi liarnya. tulisan inipun segera berganti sudut pandang (dari sudut pandang tokoh game aneh itu menjadi sudut pandang seorang penulis yangagak skeptis dan tak kenal takut). Lalu saya berpikir. Apakah orang Indonesia bisa sepintar itu dalam menyusun strategi?

Ah, saya rasa tidak. Semua murni keputusan yang memang terlihat bodoh.

tamparan tanggung jawab

Pelajaran berharga lagi-lagi kuw temukan di hari-hari yg sangat biasa bagi saya seorang anak kuliahan (nb; anak kuliahan dgn mahasiswa itu berbeda). Anak kuliahan yg kesehariannya ngampus, masuk kelas, dengar ceramah dosen, ngerumpi dikampus, go home sambil menunggu hari esok tuk kuliah lg.

Semoga setelah membaca tulisan ini, kalian akan mengerti apa yang saya maksud "Belajar dari hal-hal yang biasa." (paste dari “senyum yg terlupakan”)

Ok, lets start…

Sabtu 28 november, diawali dengan sesuatu yg buruk, yappp telat bangun merupakan penyakit yg belum bisa saya obati atau sembuh kan, berhubung kami (anggota UKPM) sedang mengadakan musyawarah besar yg ke XVI.

Dilanjutkan dengan langkah yg tertatih-tatih menuju kamar mandi sembari menengguk segelas susu dingin, dingin karena hembusan sang angin. Sesaaat setelah itu aku pun siap melangkahkan kaki menuju singgasana UKPM (sok hiperbola). Berhubung ban motor saya bocor terpaksa dengan senang hati saya harus merelakan sejenak mengeluarkan tenaga untuk mendorongnya menuju press ban. Yaaap sesaat kemudian everything is ok, ready ??? go go go go berangkat…

Antiklimaksx mie

Sesaat setelah tiba dikampus tepatnya di ukm motor pun kuw parker, dari kejauhan terlihat gumpalan rumput yg melekat tepat ditangkai p[ohon, yap sarang burung…

Sunggu pelajaran berharga yg kuw dapat dari mereka (burung=binatang), yg katanya manusia derajatnya lebih tinggi disbanding burung (atau apapun itu yg jelas binatang)

Yahhh sebuah tamparan tanggung jawab yg disajikan olh burung tersebut, tamparan untuk mengajarkan saya (dan mungkin kita) arti sebuah tanggung jawab, arti sebuah pemimpin, yg kini telah carut marut di panggung sandiwara (dunia versi ahmad albar’s n band)

Yah aku dipertontonkan oleh seekor burung (*binatang) arti tanggung jawab, dimana tugas sebagai induk (jantan) yakni menafkahi keluarganya dan memberikan rasa aman bagi keluarganya (kita sebut sj keluarga, karena ketika jantan membuahi betina dan menghasilkan spesies baru berjenis sama itu telah memenuhi syarat sebuah keluarga).


Lanjuuuttt….

Kuw perhatikan dari jauh tampoak dua ekor burung dewasa dan beberapa bayi burung, burung satu (mungkin berjenis kelamin jantan) tampak sibuk mondar mandir dengan secercah harapan dimulutnya, yap selembar ilalang yg menggantung.

Selanjutnya (subyektif penulis bercampur dengan imajinasi) disaat sang jantan mondar mandir dengan ilalang dimulutnya, sang betina dengan ketulusan memberikan kehangatan perlindungan bagi anak-anaknya (mungkin itu yg tengah terjadi disarang tersebut). Saat sang jantan sibuk mencari secercah harapan, mungkin juga dibarengi dengan mengais rejeki (lagi2 imajinasi penulis), lalu akan memberikan pada anak-anaknya yg kelaparan dalam sangkar, dan mungkin saja mereka sebagai orang tua rela menahan lapar sebelum anak-anaknya kenyang.

Dan mungkin lagi disaat anak-anak mereka telah besar dan bisa terbang, anak-anak mereka akan diberi kebebasan untuk mengarungi dunianya, tiada kemelekatan dan tiada pamrih, demi kebahagiaan semuanya mereka belajar untuk terus bertahan hidup dan terbang bebas melihat keindahan alam bebas.

Bagaimana dengan kita? Mahluk yg katanya sempurna dari segala mahkluk ? sudahkan kita merenungi hidup kita?

Manusia jauh lebih berhati mulia dari pada burung, Ada burung-burung tertentu, ketika anaknya lahir cacat, maka induknya langsung mendepak sang anak dari sarangnya, dan anak burung yg tidak mampu bertahan hidup akan segera mati.

Tidak dapat dipungkiri, ada manusia yang mengaborsi anaknya sebelum kelahirannya di dunia, atau menelantarkan anak yang sudah dilahirkannya, ada juga yang tega membuang anaknya ke tong sampah, atau dihanyutkan di sungai.

Tentu masih banyak orang tua yang memiliki cinta kasih, kasih sayang dan kebijaksanaan pada anak-anaknya. Kebahagiaan Keluarga jauh diatas segalanya,Tapi Dimana arti kepemimpinan itu ? dimana filosofi seorang laki-laki yg seharusnya menjadi pengayom ?



they have lost my respect....


Tidak peduli mereka seumuran, lebih muda, atau lebih tua. Yang harus direnungkan adalah.........
Are we truly better than they are? Think again. (paste dari “senyum yg terlupakan”
)


Semoga Semua tetap tersenyum, semoga semua selalu damai, tentram didalam selimut kebahagiaan.

Bersyukurlah...

Senin, 08 November 2010

Kawan, hidup ini ternyata,tidak sekedar mengejar cita-cita pribadi saja.

Di luar sana masih banyak orang tidak punya rumah, Masih banyak orang yg bahkan tidak tahu apakah besok pagi dia masih bisa makan, Masih banyak anak-anak yang bahkan tidak tahu sampai kapan mereka akan terus tidur beratapkan langit yang bahkan terkadang memuntahkan air dan beralaskan tanah yang keras, Masih banyak mereka yang masa depannya tidak jelas tapi sayangnya kita sering lupa akan hal itu.

Seringkali kita hanya ingat dan berempati hanya saat penderitaan mereka disodorkan depan muka kita. Selebihnya, mungkin kita lupa. Padahal seharusnya kita lah yang mencari tahu. Kita yang mencari fakta-fakta, bukan menunggu untuk ditemukan oleh fakta. Tapi sayangnya, kenyataan yang sering terjadi adalah kita hanya menunggu.
Masih banyak mereka yang tidak mandi karena alasan-alasan yang mungkin bagi kita mudah saja, seperti air bersih, sabun, dll. Sedangkan kita pun mungkin secara sadar maupun tidak sering membuang-buang air bersih atau memiliki banyak sabun yang tidak terpakai. Masih banyak mereka yg tidak memiliki baju selain yang menempel di tubuh mereka dan kita masih sempat mengeluh ngeluh karena baju kotor yang menumpuk? Ingatlah kawan..itu artinya kita beruntung memiliki banyak baju.

Masih banyak mereka yang tidak memiliki orang tua dan kita terkadang sering menggerutu hanya karena ditegur orang tua? Ingatlah kawan.. itu artinya kita beruntung karena masih diizinkan Allah untuk mewujudkan rasa sayang dan membalas kebaikan orang tua kita. Seringkali kita mengeluh dan mengomel karena kelelahan berjalan kaki. Ingatlah kawan..itu artinya kita masih punya kaki dan tubuh yang berfungsi dengan baik.

Apapun yang terjadi.. Seburuk apapun keadaan kita,,, cobalah kita pandang dari sudut pandang yang berbeda dan kita akan menemukan dan pada akhirnya mengerti cara Allah menyayangi, mendidik, dan memberi yang terbaik untuk kita….

Because we are loved

Tapi kenapa kita sering lupa? Kenapa kita sering tidak berinfaq jika tidak diminta? Kenapa tidak mencari tahu di mana kita bisa berinfak?

Kawan…..
Hidup tidak hanya bersemangat berprestasi dalam bidang akademik, organisasi, atau pekerjaan. Semua itu bagus sekali namun semangat dan prestasi luar biasa itu tidak ada artinya bila implementasinya sama dengan nol. Tidak ada artinya bila ternyata kita sampai lupa dengan orang-orang di luar sana, Mereka yang menjadi korban kemerdekaan yang blum merdeka, Mereka yang menjadi korban para pejabat yg bagai kacang lupa kulitnya itu, Mereka yang terlupakan, mereka yg dibohongi, mereka yg tertindas, mereka yg terjajah oleh 'kemerdekaan' negeri ini.

Kawan….
Bersyukurlah punya banyak makanan, Banyak sekali orang yg kelaparan di dunia ini. Di Ethiopia, India, Indonesia, atau bahkan mungkin beberapa meter dari tempat kita duduk saat ini. Jadi ingatlah kawan..Jangan sampai kita membiarkan makanan membusuk di kulkas atau menjadi basi di dalam lemari.

Kawan..Mari kita luangkan waktu..,,untuk bersyukur.
Ya, untuk bersyukur.
Karena selalu harus ada waktu untuk bersyukur.
Jangan sampai kita bersikap tidak tahu diri.
Jangan sampai kita rutin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman namun tidak ingat untuk berterima kasih kepada Allah..

Kawan...
Mari kita menghargai setiap waktu yang terlewat karena waktu tidak dapat berputar kembali. Bahkan Leonardo Da Vinci pernah menyatakan keheranannya mengenai manusia yangg sering tidur. Ia berpendapat manusia hidup tersebut seperti orang mati saja karena apa bedanya orang yang msh hidup dengan yang sudah meninggal apabila yang hidup juga tidak melakukan apa-apa (baca: sia2)?

Kawan..Lihat ke negeri Palestina sana, Ke negeri para bayi yang terlahir untuk hidup di surge, Ke negeri yg para penghuninya waspada setiap saat terhadap pengeboman, penjarahan, pembunuhan, dan segala ketidakadilan yg dilakukan oleh orang2 yg mengatas-namakan perebutan kembali tanah milik mereka, Ke negeri yang pedih karena para muslim yg seharusnya bertitel saudara tidak bertindak seperti saudara (baca: tidak mendukung)

Kawan..Skali lagi, ingatlah..Kita harus peka
Selalu lihat ke bawah tapi jangan lupa lihat ke atas juga
Selalu lihat ke depan tapi sesekali jangan lupa untuk menoleh ke belakang juga

In order to be a better person, we can't improve urself only without caring for others

Kawan..bayangkanlah kesepiannya mereka yang tidak memiliki keluarga, mereka yg dimusuhin, dikucilkan, apalagi kesepian dan kepedihan orang-orang yang ditinggal mati keluarganya yang terbunuh di depan mata mereka Kawan...

Jangan terlalu sedih walaupun kadang orang suka meremehkan kita. Di belahan dunia di sebelah mana pun, banyak sekali orang-orang terbuang yg mungkin jauuuuhh lebih tersakiti daripada kita. Mereka dianggap hina, Mereka dipandang rendah, Entah berapa banyak cacian yg sudah mereka dengar, Perlakuan kasar yang mereka dapat juga tak terhitung dan Lihatlah semuanya lebih dekat..dan kita akan sadar betapa sempurnanya hidup kita, paling tidak bagi diri kita sendiri....

kematian, milik setiap insan

Suatu ketika ada seorang janda yang sangat berduka karena anak satu-satunya mati. Sembari membawa jenasah anaknya, wanita ini menghadap Sang Guru (dukun) untuk meminta mantra atau ramuan sakti yang bisa menghidupkan kembali anaknya. Sang Guru mengamati bahwa wanita di hadapannya ini tengah tenggelam dalam kesedihan yang sangat mendalam, bahkan sesekali ia meratap histeris. Alih-alih memberinya kata-kata penghiburan atau penjelasan yang dirasa masuk akal,
Sang Guru berujar: “Aku akan menghidupkan kembali anakmu, tapi aku membutuhkan sebutir biji lada.”
“Itu saja syaratnya?” tanya wanita itu dengan keheranan.
“Oh, ya, biji lada itu harus berasal dari rumah yang anggota penghuninya belum pernah ada yang mati.” Jawab sang guru


Dengan “semangat 45″, wanita itu langsung beranjak dari tempat itu, hatinya sangat entusias, “Guru ini memang sakti dan baik sekali, dia akan menghidupkan anakku!” Dia mendatangi sebuah rumah, mengetuk pintunya, dan bertanya: “Tolonglah saya. Saya sangat membutuhkan satu butir biji lada. Maukah Anda memberikannya?” “Oh, boleh saja,” jawab tuan rumah. “Anda baik sekali Tuan, tapi maaf, apakah anggota rumah ini belum pernah ada yang mati?” “Oh, ada, paman kami meninggal tahun lalu.” Wanita itu segera berpamitan karena dia tahu bahwa ini bukan rumah yang tepat untuk meminta biji lada yang dibutuhkannya. Ia mengetuk rumah-rumah berikutnya, semua penghuni rumah dengan senang hati bersedia memberikan biji lada untuknya, tetapi ternyata tak satu pun rumah yang terhindar dari peristiwa kematian sanak saudaranya. “Ayah kami barusan wafat…,” “Kakek kami sudah meninggal…,” “Ipar kami tewas dalam kecelakaan minggu lalu…,” dan sebagainya.
Ke mana pun dia pergi, dari gubuk sampai istana, tak satu tempat pun yang memenuhi syarat tidak pernah kehilangan anggotanya. Dia malah terlibat dalam mendengarkan cerita duka orang lain. Berangsur-angsur dia menyadari bahwa dia tidak sendirian dalam penderitaan ini; tak seorang pun yang terlepas dari penderitaan. Pada penghujung hari, wanita ini kembali menghadap Sang Guru dalam keadaan batin yang sangat berbeda dengan sebelumnya.
Dia mengucap lirih, “Guru, saya akan menguburkan anak saya.” Sang Guru hanya mengangguk seraya tersenyum lembut. Mungkin saja Sang Guru bisa mengerahkan kesaktian dan menghidupkan kembali anak yang telah mati itu, tetapi kalau pun bisa demikian, apa hikmahnya? Bukankah anak tersebut suatu hari akan mati lagi juga? Alih-alih berbuat demikian Sang Guru membuat wanita yang tengah berduka itu mengalami pembelajaran langsung dan menyadari suatu kenyataan hidup yang tak terelakkan bagi siapa pun: siapa yang tak mati? Penghiburan sementara belaka bukanlah solusi sejati terhadap peristiwa dukacita mendalam seperti dalam cerita di atas. Penderitaan hanya benar-benar bisa diatasi dengan pengertian yang benar akan dua hal:
(1)kenyataan hidup sebagaimana adanya, bukan sebagaimana maunya kita, dan
(2)bahwasanya pada dasarnya penderitaan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang bersumber dari dalam diri kita sendiri.

renungan dan doa

Tuhanku,
Sungguh aku makin mencintaiMu sepenuh hati jiwa ragaku.
Engkau telah ajari aku bagaimana menjadi orang yang dermawan tanpa menjadi orang yang boros.
Engkau pula telah ajari aku bagaimana menjadi orang yang hemat tanpa menjadi orang yang pelit.
Engkau pula telah ajari aku bagaimana menjadi orang yang hati-hati dalam waktu dan harta.
Engkau pula telah ajari aku bagaimana mempersiapkan masa depan tanpa mengkhawatirkannya
Engkau pula telah ajari aku bagaimana menghormati orang lain tanpa bergantung kepadanya
Engkau pula telah ajari aku bagaimana memberi tanpa mengharap balas
Engkau pula telah ajari aku bagaimana nikmatMu aku tularkan kepada hamba-hambaMu
Engkau pula telah ajari aku bagaimana rasanya menjadi orang yang selalu memberi
Engkau pula telah ajari aku bagaimana mengutamakan orang lain

Namun……
aku ini masih pelit untuk selalu beribadah kepadaMu dan berterima kasih kepadaMu
Tuhan, Singkirkan aku dari golongan orang yang pelit harta, pelit hati, dan pelit jiwa....
Masukkan aku ke dalam golongan orang yang kaya harta, kaya hati, dan kaya jiwa....
agar aku tidak terperosok dalam siksaMu yang teramat sangat pedih itu....
Aku ingin dermawan karena kaya hati......
Tuhan, Ini do'aku Kabulkanlah......
Amin

surat untuk bapak

Jumat, 29 Oktober 2010

Kebimbangan ini bagai lingkaran yang mengurung diriku begitu rupa, bagaimana aku bisa menjelaskan ini semua kepadamu , Pak? Mataku Cuma bisa basah, rupanya hanya dengan cara ini aku bisa merasakan kerinduanku. Pada jarak kita yang sangat jauh, juga dalam rentang waktu yang panjang, masih juga kurindui engkau. Banyak sesalku yang takkan bisa tersampaikan padamu, disaat kau tak ada, aku baru merasai sepinya kesendirian ini.

Mungkin aku adalah anakmu yang selalu membuat hatimu kesal ?(jemariku terhenti menggerakkan pena). Air tidak hanya menetes di mataku tapi juga menyumbat deras pernafasanku, pedih ini lebih dari yang kuduga. Lalu gambaran ketika kau ada berseliweran saling tubruk di kepalaku. Aku ingin menguraikannya satu persatu agar kenangan kita dahulu dapat menjawab rindu ini yang sangat begitu sepi. Aku ingin pedih ini merobek-robek setiap keangkuhan yang aku punyai, lalu aku cuma selembar jiwa yang telungkup di pangkuanmu (suatu kemustahilan, kau telah jauh. Pun ketika kau dekat, aku tak pernah begitu).

Bapak, aku merasa kau ada di dekatku sekarang, tidak dengan sapu lidi dalam genggamanmu yang bisa membuat betisku merah, tapi kau letakkan tanganmu yang lemah di pangkuanku, juga menemaniku menulis surat ini, menuntun hatiku untuk bisa menjadi hangat bersamamu. Tahukah engkau,Bapak, aku ingin berada di pelukmu sebentar saja, tapi tidak dengan baju kebesaranmu dangan tanda jasa dan hiasan bintang di pundakmu. Semua itu membuatku selalu takut, juga untuk menatap matamu, apalagi berlindung di dadamu karena yang kutangkap hanya debur jantung yang selalu siap meledakkan amarah. Namun sepanjang kita bersama, aku tidak pernah mengimpikan orang lain untuk menjadi bapakku. Kau tetap bapakku, yang telah memberikan rasa tentram sekaligus rasa takut.
Selama kita bersama aku belum pernah begitu berupaya untuk membuat hatimu bahagia, juara kelasku pada tiap jenjang pendidikan bukan untuk kupersembahkan kepadmu, pun begitu dengan prestasiku yang lain bukan untuk membuatmu bangga. Ah Bapak, jika itu untukmu maka kau akan merasa benar bahwa kekerasanmu membuahkan hasil. Semua yang kuraih untuk diriku sendiri, aku begitu keras hati sebab itupun aku tidak arus merasa sedih saat tak satupun pujian kau lontarkan untukku.

Banyak hal yang tidak pernah kuungkapkan kepadamu. Kau bisa luar biasa marah ketika aku tak mendengar nasehatmu. Tak layak tentu aku menjadi anakmu. Lalu aku akan membiarkan dirikuku berlimpahan kenistaan sekalian.

Betapa jahatnya aku.Rahasia nista ini aku simpan darimu hanya karena aku takut berhadapan dengan kemarahanmu, bukan karena aku telah melukai hatimu. Ah bapak, terima sungkem dari anakmu ini. Aku menikam berulang-ulang hatiku sendiri sampai kini, bukan kau yang melakukannya, tapi diriku sendiri, meski cuma kekuatan menusukkan belati yang aku miliki yang tertinggal di sisa tenagaku.


Masih jelas tergambar ketika itu, kau tetap saja menunjukkan dirimu sebagai bapak yang perkasa dan tegar, meski kau tergolek di atas ranjang yang dikelilingin dengan alat pencuci darah. Suara mesin itu, Pak, memekakakkan telinga dan jantungku bersamaan, membuatku menangis tanpa suara dan air mata. Aku cuma berdiri di sisimu dan tidak juga kau raih jemariku yang menanti penuh harap untuk kau genggam. Betapa ingin kudengar kau katakan sakitmu padaku dengan demikian aku merasa berarti aku menjadi anakmu. Berbagilah, meski tak kurasakan sayatan di perutmu, untuk merelakan darah itu mengalir hilir mudik keluar masuk.

Di sepanjang tahun sakitmu, kau tetap saja Bapakku dengan wajah dan watak yang keras, melunaklah sedikit seperti organ tubuhmu yang telah aus. Luka di hatiku karena cinta yang kuyakini membuatku mekin terengah meraih – raih hangat dekapan kelembutan cinta seorang Bapak. Aku sepenuhnya yakin, bahwa hanya kau yang mampu mengobatiku. Bapak, berapa kali aku tidak dapat menahan marahku kepadamu. Dan kau hanya terduduk lesu tanpa ekspresi sambil membiarkan ujung-ujung jarimu yang berdarah. Kau siksa aku terus menerus dengan sakitmu, kau biarkan tanganmu yang telah lumpuh sebelah itu berusaha menggunting kukumu di jemari yang lain karena telah panjang sebagian. Sementara kau biarkan aku tertawa lepas menikmati tontonan menarik di layar televisi di seberang kamarmu. Kenapa tidak juga kau memintaku untuk melakukannya? Mintalah bantuanku, Pak. Tidakkah kau anggap aku ada di sebelahmu?
Juga ketika kau roboh di balik pintu ruang tempat satu-satunya dimana kau habiskan ketidakberdayaanmu, bahkan memanggil namaku pun tidak, kau bersusah payah memapah tubuhmu untuk berdiri, sekali lagi kudapati kau tanpa ekspresi terduduk di lantai bersimpuh dengan kain sarungmu. Ya Tuhan, mengapa kau begitu sombong? Memakai sarungpun kau sudah tidak bisa, mintalah aku melakukannya untukmu. Aku hanya bisa berteriak-teriak, meyakinkanmu bahwa aku selalu ada di sisimu, membantumu dengan ketulusan dan cintaku. Tetapi kau, sekali lagi tidak pernah memperhitungkan aku. Kau hanya menatapku tak berkedip tanpa berkata apapun, namun berjuta makna terbaca di sana. Tentang amarah yang terpendam, tentang rindu yang terbenam, tentang asa yang tenggelam. Ah, matamu tegas menikam kepedihanku, kuat sekali.

Akulah satu-satunya anakmu yang masih tinggal pada atap yang sama. Aku akan menjagamu ketika ibu berangkat ke tanah suci disaat penyakitmu datang. Mengeluhlah kepadaku, Pak. Merataplah kepadaku akan sakitmu. Demi Tuhan, dingin gigil ruang yang berjarak pada diri kita tak akan mampu meluluh leburkan benih kasih sayangku kepadamu. Jangan biarkan aku menjadi orang asing di hadapanmu.

Aku adalah pewaris sikap dan watak kerasmu di antara saudara-saudaraku. Sehingga di antara kita selalu saja ada percikan api yang menggeremang. Suara-suara lantang yang bertabrakan dan memantul-mantul di setiap ruang saat kita berselisih paham. Ketika kecil aku hanya menangis menerima sentilan keras yang menciptakan merah ungu di telingaku. Juga cubitan jemarimu yang gempal di pahaku nan membiru. Segala hal berbeda ketika aku bertambah besar, setinggi tubuhmu, kuperlihatkan ketidaksukaanku, mempertentangkan habis-habisan segala peraturanmu. Aku belajar menentangmu, Pak. Namun aku mencintaimu sangat. Andai engkau tahu itu………

Kau selalu menyebutku pembangkang, bahkan semua saudara dan ibu memberiku predikat demikian. Mungkin semua itu benar, namun bukan berarti aku tak pernah mengasihi dirimu, tempat dimana segala energi pemberontakanku terpusat.

Kau, seorang Bapak yang demikian ku kenal, yang selalu berbicara dengan suara lantang dan tegas, yang tiap kali menggeletarkan ruangan di mana kita bercanda, kini terengah menyeret dengan kekuatan sebelah tubuhmu. Matamu basah, Pak. Itulah air mata pertama yang kau deraikan untukku. Aku belum pernah melihatmu menangis………

Suaramu tak lagi garang, tatapanmu tak lagi menikam, dengan kata-kata yang sulit kau ucapkan karena lidahmu yang telah kelu sebelah, kau memohon padaku untuk tidak pergi, sebelum kau bertemu ajalmu. Tak sanggup lagi kudengar suaramu yang terbata dan tidak jelas, kita berpelukan dengan haus dan air mataku yang tumpah ruah di dadamu, betapa kuinginkan dekap hangat seperti ini sejak dulu. Maka Bapak, cintaku padamu yang terpendam berhamburan ke permukaan hatiku, meluluhlah keras hati kita. Aku akan membayar mahal dengan mengabulkan permintaanmu. Apalah artinya kemudian segala yang harus kutunaikan dibanding hangat hatiku berada di pelukmu, mendengarmu pintamu untuk dibahagiakan. Aku menjadi demikian berarti bagimu. Kepatuhan terbesarku ini akan ku persembahkan padamu, tanpa perasaan terhina, terluka, menekan amarah, namun karena rasa cintaku yang terlampau besar padamu.

Bapak, terima simpuhku di sudut kakimu dengan segala maaf dan terima kasihku kepadamu. Atas dasar kasih sayang yang tak mengenal kata akhir,
anakmu…..

Kututup halaman buku harianku yang telah menjadi saksi pengakuan dosaku itu. Kuraih selembar foto, gambar itu bercerita banyak; seorang anak kecil dengan mata berbinar sedang duduk di bebatuan air terjun bersama seorang ibu dan bapak. Bahagianya kami ketika itu, mengejar mimpi-mimpi asa keluarga. Pipiku membasah, ada kelegaan luar biasa yang mengalir bersamanya. Aku makin mencintaimu.
Bapak, kini waktu itu telah lama berselang dan kau pun telah tenang diperbaringan sana. Kini aku beserta adikku akan selalu menjaga namamu, ibu pun telah bekerja keras untuk menghidupi kami, meneruskan cita-cita yang kau impikan…

dedikasi khusus buat dia yg telah memberikan inspirasi untuk menghasilkan karya ini...
 

Lorem

Ipsum

Dolor