life is a big joke

Jangan biarkan ide muw usang dimakan waktu, tuangkanlah dalam goresan tinta keabadian.....

Sepi Itu Sengit II

Kamis, 01 Maret 2012

Momen paling pribadi saya adalah ketika saya sedang berbicara dengan diri saya sendiri di dalam hati. Momen-momen semacam ini biasanya terjadi ketika sedang berada di atas motor. Jalanan yang ramai dan padat. Sinar matahari yang panas. Suara-suara mesin yang menderu. Para pengendara jalan yang anonim. Semuanya bahu membahu untuk menghasilkan ruang-ruang dialog instan bagi saya dan diri saya sendiri.

Surat Untuk Bapak II

Dear Bapak, apa kabar kau di sana? 

Lama kita tak jumpa, terakhir aku masih mengantarmu ke dokter. Sebesar ini aku masih takut ke Rumah Sakit sendirian. Lorong panjangnya, bau obat, wajah-wajah yang menahan sakit dan aroma kesedihan begitu mengental di sana. Aku tak suka ! 

Apa kabar kau di sana, masihkah lebih menyukai teh manis daripada air putih? Masihkah sendi-sendi pergelanganmu sakit? Yang kutahu kau masih tampan dan gagah, dan orang-orang masih bertahan pada pendapat bahwa aku adalah replikamu. 

Bapakku sayang, aku tahu kau belum membaca semua surat-suratku. Ini cuma masalah waktu saja kan. Kelak kau akan ada di beranda depan membaca suratku dalam bentuk lembaran  rapi dengan kacamata tuamu ditemani segelas teh  hangat. Sepanjang hari nanti kau akan sibuk bercengkrama dengan cucu laki-lakimu yang nakal. Menemaninya berdiskusi tentang harinya yang hebat di sekolah. Atau membantunya menerbangkan layang-layang sambil tergelak ramai. Sementara anak kecil yang dulu akran kau sebut botak akan terlihat lebih pendiam dengan buku kesukaannya atau berada di taman dengan ayunan ditemani neneknya yang cantik. 

Papa, aku tahu kau akan pulang. Kembali kepada rumahmu yang sebenar-benarnya.  Masihkah kau ingin membelikan majalah Bobo yang aku rindukan? atau membelikan kepingan CD Power Rangers untuk aku ? Ah Papa, saat itu akan tiba nantinya. Dan mimpiku adalah mimpimu juga pastinya. 

Tanpa kuminta kau pasti mengamini semua doaku, kuyakin itu. Akan kubangun rumah yang indah untukmu. Dipenuhi mawar, anggrek dan magnolia yang cantik dengan gazebo di taman belakang diiringi teriakan manja yang minta dibacakan cerita. 

Aku tak hendak berjanji padamu, namun kuletakkan usaha sebaik-baiknya di tangan Tuhan. Kuyakin kelak ia akan mendengar doa cucumu satusatunya yang dulu badung ini. Dan aku yakin semesta mengamini untuk semua doa yang kutambatkan di perahu hidup.













Hari ini aku merayakan ulang tahun tanpamu lagi
21 November 2011

Seni dihari senin

Sabtu, 26 November 2011

kepada raga yang terabaikan TERIMA KASIH  telah menemani hidupku dengan cerita. adalah dirimu, dimana nafasku berteduh disetiap malam.

kau selalu menemaniku tampak cemerlang disetiap saat

serupa bengkala, aku selalu memberi kotoran sesaat dirimu rentan. aku daun, kamu rintik hujan, aku hanyalah tempatmu singgah sebelum memeluk bumi.

tertawalah, biarkan semua luka menjadi duka dan aku kan nyaman dipersembunyianku; DIAM
21 November, ini kemenangan kita. menarilah dan tangisi itu.

aku takkan menunggu hujan hanya untuk sebuah pelangi. kan kuw lukis dan kupandangai sesuka hati.
aku akan pergi, kan kutitipkan ragaku pada pena ini, tengoklah ia sekali - kali, akan ada pesan yang kutitipkan.
"semoga kamu tak larut dalam keriangan"

seni yang bersemi dihari senin, dan kita adalah kata yang terlambat tercipta kelak....

selamat ulang tahun ragaku
selamat ulang tahun jiwaku
dan tuhan menyaksikan itu

dirga, 21 menit menuju 21 november

Andai semua berlaku lurus

Minggu, 30 Oktober 2011


Hidup terlalu murah jika ingin dilewati seperti hari kemarin

Suatu bangsa hanya akan dihargai oleh rakyatnya ketika kebutuhan mereka dapat terpenuhi; baik itu pangan, sandang, maupun jaminan hidup dalam ketentraman. Indonesia hari ini masih saja berkutat pada lingkaran yang seharusnya dapat teratasi jika para pemimpin negeri ini tidak cukup puas dengan pikiran mereka sendiri; mensejahtrakan keluarga, menyekolahkan anak sampai pada jenjang tertinggi, serta membekali mereka dengan uang saku masa depan.

Masih hangat dibenakku cercaan kata seorang Dom Helder Camara :
“ketika akau memberikan makanan kepada orang yang sedang kelaparan, maka aku dianggap sebagai malaikat, dan ketika aku Tanya siapa penyebab dari semua ini ? mereka menuduhku komunis..”

Dari sekian ratus masyarakat yang hidup bernaung dibawah bhineka tunggal ika 5% diantaranya hidup dalam golongan rulling class, 20%  masih berkutat pada middle class, dan 75% mayoritasnya adalah para pekerja buruh atau lebih dikenal working class.  Bangsa Indonesia memmpunyai rentetan sejarah dalam merebut dan mempertahankan kedaulatannya., dari sabang sampai merauke bahu-membahu bersatu dalam merah putih. Namun dewasa ini  semangat kebersamaan itu tak dapat lagi kita temui, terutama para apparatus bangsa. Entah apakah mereka terlalu pintar atau rakyatnya yang terlalu bodoh hingga kebijakan politik luar negeri ini lebih berkiblat pada ekonomi makro; industri yang menguntungkan para pemodal, anak-anak apparatus bangsa, serta lain sebagainya. Bumi nusantara yang konon kabarnya kaya akan sumberdaya alamnya tidak dapat dinikmati oleh anak cucu bangsa ini yang terlahir dari keluarga middle class dan working class

Pemimpin bangsa ini beserta jajarannya seringkali membusungkan dada ketika mendengar suara sumbang yang mengatakan bahwa pendapatan per kapita bangsa ini salah satu yang terbaik di Asia, bahkan didunia. Mereka tidak sadar bahwasanya itu semakin memperuncing jarak kesehjateraan anak bangsa yang satu dengan yang lainnya. Belum lagi habis membahas tentang bobroknya negeri ini, rakyat lagi-lagi harus menerima kenyataan pahit permainan sulap para punggawa bangsa ini. Hukum diperjual belikan, tak ada uang dalam menyelesaikan perkara maka “ngandang” sesuatu yang pasti. Hal ini tidak berhenti sampai disitu, fasilitas  “ngandang” pun lagi-lagi ditentukan oleh uang. Bagi mereka yang menyedekahkan uangnya buat para tikus-tikus kantor (ala bang iwan) tentu akan mendapatkan fasilitas bak hotel bintang lima. Hal ini berbanding terbalik dengan mereka yang tidak mempunyai  benda sakral itu; uang. Penindasan fisik dan psikis akan menjadi rutinitas sehari-hari yang tak terhitung perihnya. 

Alangkah lucunya negeri ini, semakin tinggi jenjang pendidikan yang pernah diemban, semakin tinggi pula status social yang akan ia peroleh. Hasil dari pendidikan itu juga akan menentukan dia  aka nada dikelas sosial mana, rulling class, middle class atau worker class ? namun sayangnya ketimpangan ini lagi-lagi dikebiri dengan hadirnya RUU 66 saudara seperjuangan BHP yang hendak mencabut subsidi pendidikan bagi rakyat kecil. Mencerdaskan kehidupan bangsa dalam UUD 45 mungkin dan pasti akan direvisi oleh apparatus negeri ini. Eksklusivitas endidikan ini juga akan berlanjut pada eksklusivitas lainnya, karena dari sinilah semua masalah berakar. Karena pendidikan tidak merata, akhirnya perbedaan status social antara juga akan semakin meruncing. Dan kemudian yang menjadi parameter seseorang dalam status social dinegeri ini adalah latar belakang pendidikannya; setinggi apa jenjang pendidikannya dan dimana ia mendapat pendidikan itu, dalam atau luar negeri ?. semakin tinggi pendidikan yang kita dapatkan maka semakin tinggi pula penghasilan pekerjaan yang akan kita dapatkan, dan sebaliknya. Sementara pendidikan sendiri masih diskriminatif; parameter mendapatkan pendidikan dilihat dari bisa atau tidaknya kita membayar biayanya.

Aparatus negeri ini begitulah adanya,  presentase rakyatnya yang menunjukkan 70% sebagai working class; yang mengandalkan hidupnya hanya dari otot dan bumi pertiwi. Buruh dan Petani merupakan mayoritas penduduk negeri ini, namun pemerintah tidak dapat bercermin dari itu, malah mengeluarkan kebijakan yang mendiskriminasi mereka dan lebih pro dengan kebijakan pasar.

Sejarah suatu bangsa adalah sejarah tentang pangan; bagaimana mereka mempertahankan kedaulatan pangannya, begitu pula bangsa ini. Kebijakan pro pasar seolah-olah membutakan mata mereka akan mayoritas penduduk negeri ini.  Tanah merupakan sumber kehidupan, namun diatasnya telah dibangun gedung-gedung pencakar langit, mal, bahkan di ibu kota pun telah menjadi hutan beton abad 21. Penderitaan petani pun kian bertambah ketika pemerintah tak dapat lagi membayar utang luang negerinya, (utang yang seyogyanya digunakan sebagai modal pembangunan bangsa ini justru menjadi modal pembangunan asset-aset kekayaan para apparatus negeri ini) konsekuensinya investor bebas melancarkan investasi lewat perusahaan multinasional. Parahnya lagi  perusahaan-perusahaan multinasional yang berkiprah dinegeri ini sangat betah untuk berlama-lama mengeruk kekayaan bangsa ini; selain bisa member upah rendah pada buruh, juga untuk meminimalisasi, bahkan memotong biaya  kirim dari Negara mereka kenegara kita, sebab perusahaan itu sudah berdiri dan membuat pabrik dinegeri ini.

Jika dulu negeri barat melakukan penjajahan ekspansi ekonomi dengan penjajahan fisik, sekarang lebih kepada psikis.  Kolonialisme barat yang dulunya merampas sumber daya dinegara jajahan dan membawanya kenegera sendiri, kemudian diproduksi lalu dijual kembali ke Negara lain, sekarang mereka bisa memotong biaya transportasi dengan memproduksi dinegara konsumen. Dengan upah buruh murah tentunya perusahaan multinasional jauh lebih senang memproduksi barangnya dinegara konsumen, bayangkan saja jika dinegara perusahaan itu upah buruhnya dibayar berdasarkan jam kerja dan mata uang yang berlaku dinegaranya, sedangakan dinegara konsumen, upah buruhnya dibayar per bulan ataupun per hari dengan nilai tukar mata uang yang lebih rendah. Produksi-produksinya pun kemudian mendapatkan grade A, yang kemudian sebagian besar akan dipasarkan ke Eropa, AS, China, dan Jepang, maka buruh pun secara tidak langsung akan terhegemoni sekaligus teralienasi oleh sistem yang dibuat-buat oleh para pemimpinnya.

Berbicara mengenai keadilan, mungkin hal ini akan sangat kontras dari keadilan. Sebagaimana demagogis yang dirancang oleh para penguasa. Misalnya, jikasanya mahasiswa, rakyat, petani, buruh dll melakukan aksi unjuk rasa yang berujung bentrok dengan apparatus Negara dalam hal ini aparat kemanan, maka doktrin public yang akan dikeluarkan dimedia massa yakni tindakan anarkis, , ketika aparat keamanan melakukan tindak kekerasan yang seringkali melanggar HAM dengan menimbulkan banyak korban jiwa maka hal ini kemudian akan disebut dengan penertiban, dan parahnya lagi ketika pemerintah melakukan penggusuran tanah rakyat maka hal ini kemudian akan digaris-luruskan dengan sebutan pembangunan.

Jika keadaan seperti ini  dibiarkan secara terus menerus maka ketimpangan akan bertambah parah. Mereka yang kaya akan bertambah kaya, yang miskin tidak akan pernah punya kesempatan keluar dari kungkungan kemiskinan. Pemimpin negeri ini selalu berpolitik untuk memikirkan kesehjateraan, dan pada akhirnya mereka pun jadi kelaparan berpolitik.


Andai semua berlaku lurus !

Nb: tulisan ini juga dipublikasikan 
di karya tulis menulis indonesia

Belanja

Minggu, 16 Oktober 2011



Lek         $                         ؋
ƒ                     ман                         p.
BZ$                                                $b
KM                                     P
лв
R$
£                                            
               kn
       
                             RD$
Kr                                         ¢
Q       L
HK$          
          Ft                              kr
                          
                               J$
¥

Лв               
Ls                 CHF
Lt                  ден                                      RM
              MT
                             C$
B/.                Gs
S/.
Php            
Lei                                                   руб
Дин.          S
R       NT$
฿                    TT$
YTL                                               $U
Bs                
Z$

Disitulah tak ada  kebahagianku….

MATA



MATA
Seorang dokter mata menguji penglihatn seorang pasien
Dan berkata, baca ini : 
          Z  M   A   N   K   I   T   A

Si Pasien kemudian membacanya:
                                                                                       
Z   A   M   A   N   G   I   L   A


kecil yang membius…..



sepi itu sengit

Selasa, 11 Oktober 2011

Untuk teman yang lagi merasa sepi....

Belajarlah untuk berbicara dengan tembok karena kau akan membutuhkannya hampir di sepanjang hidupmu. sepi itu takkan hilang, dia tak perlu liburan, tak pernah kemanamana.
Kadang ketika kau tak menemukannya, dia ada disitu hanya sedang terlelap setelah menemanimu semalam.

jika kau hanya butuh mendengar dan sedang tidak ingin bercerita, belajarlah untuk mendengarkan tembok bercerita.
Kau harus tenang karena semua yang dikatakannya takkan diulangi dua kali.
Setiap detiknya kata demi kata yang diucapkannya berbeda.
Maka kau harus mendengarkannya dengan sangat serius, suaranya juga agak samar dan seperti berbisik jadi perhatikanlah baikbaik.

kepada aku, yakinlah tak ada, tak ada aku tanpa hari begitupun sepi, tak ada hari tanpa sepi.
Kau hanya perlu menunggunya
tak ada yang bisa kubanggakan
tapi ada begitu banyak yang dapat kuceritakan...

hanya ini yang ingin kubagikan setelah lama menghilang didunia blogspot...
kelak akan kubungkus semua kebahagiaanku, kan ku bagikan satu persatu kepada kalian..

dan sepipun tersenyum...



dirga, hangat secangkir teh...

semua hanya jadi sejarah yang terlewat...

Selasa, 28 Juni 2011

Pagi, Jakarta yang tanggalnya tak ingin kuw sebut…

Mati suri selama beberapa bulan mebuatku mulai malu untuk bertemu denga kaan baikku, yaahhhh kawan baik dimana selama ini merupakan tempatku meluapkan asa, melemparkan barisan “tinta tak bernyawa”. Trmanku tak pernah mengeluh, selalu setia acap kali kuw memperdulikannya.

Dunia begitu sibuk, hingga mampu menyibukkan siapa saja yang menaunginya, tak terkecuali “aku”

Pagi ini kota tempatku berpijak begitu mesra, desahan air semalam mampu merobek hangar bingar keramaian kota. Ohhh ia tak lupa kuhanturkan terima kasih sumpah serapah bagi “dia” yang elah memberikan imajinasi hingga kubisa meracik kata kembali….

Dia begitu baik, begitu sopan, begitu rajin, hingga begitu alim jika dibandingkan dengan penulis tinta ini, jika kau melihatnya, yah dia seperatus lebih baik (lagi-lagi) dari ilustratot ini. Agak sedikit hiperbola bagi merea yang mebacanya, tapi yah inilah yang kutuliskan, mengalir begitu ikhlas dijari jemariku.

“dia”, yang kali ini tak ingin kusebut namanya,. Hmmmm atau lebih baiknya kita sebut saja “dia”, dengan sebuta “smash”. Mungkin kalian tak asing lagi dengan kata itu, dan pastinya saya yakin kalian (pembaca) salah satu oenggemar beratnya.
Hahahahahaha…

“smash”, berperawakan agak buram, bertubuh besar dariku (lebar), dan lebih kerdil dariku. “smash” sangat beruntung, ia terlahir dari keluarga kurang mampu namun dihidupi oleh salah satu keluarga dekatnya. Kurang kaya tidak miskin, yah tapi sederhana. sejak kecil belajar susah, hanya bersikap pasrah. Sempat sesaat, mengenal A. S. I. dari ibu. Syukuri rahmat, dapat singkat nikmat ilmu. #alabondan

“smash”, merupakan salah satu mereka yang diberi nafas dalam lingkup kehidupan keluarga sederhana. Mereka berjumlah sekian plus tiga (anak dari keluarga itu). Semuanya begitu adil, tak ada sekat yang menyelimuti keseharian mereka.

Semua mendapat pendidikan, alam dan institusi pendidikan memaksanya untuk hidup.
Singkat cerita mereka tumbuh besar bersama, walaupun pasti tujuan hidup akan berbeda. Kaki begitu kejam menghantar mereka dalam perbedaan tujuan. Yahhhh itu adalah hal yang sangat manusiawi, namun tak senikmat kopi torabika di pagi hari. Bak puntung rokok yang habis dihisap tuannya. Tapi yahh seperti itulah hidup, kadang kau meninggalkan, mengambil keputusan, entah itu secara baik-baik atau hanya berdasarkan egoisme pribadi yg berakal pendek.

Mereka berhasil menapaki hidup, batang rokok pun tlah menjadi puntung untuk menyinari mereka yang kusebut anak matahari. Semua tak seindah awalnya, “smash” yang awalnya hanyalh bocah yang terlindungi oleh terik matahari, kini telah menjadi bintang, yang tak membutuhkan sinar lagi untuk menyinari hidupnya.

Semua hanya jadi sejarah, yang terlewat…..

Yahhh mungkin semua agak buram dalam penuturannya. Singkat, pendek, dan tak jelas…

“smash”, tak mau kenal lagi kampungnya (yang membantunya bersinar)
“smash”, tak mau kenal lagi saudaranya… #ungu-bimbi (edit)

Kutak ingin menceritakannya lebih detail, lebih jauh, karena disini kuhanya berposisikan sebagai penonton yang hanya melihatnya dari satu sudut pandang, sudut pandang yang diberikan oleh mereka para lakon kisah. Tapi pasti singkat tulisan ini akan membuat orang tersinggung (entah itu sang lakon cerita atau kalian yang mempunya kisah mirip seperti ini). Namun lagi-lagi saya, saya menulis ini memang untuk menyinggung.. menyinggung mereka yang tersinggung.
Hahahahahahahaha

Semoga segala sesuatunya lebih baik dari awalnya…

Setiap cerita pasti ada awalnya, namun kini ku tak ingin mengakhirinya…

“smash”, you must to thank…

tulisan ini juga dipublikasikan di http://www.facebook.com/dirgasirajuddin
to be continued.... #alaserialdrama
 

Lorem

Ipsum

Dolor