life is a big joke

Jangan biarkan ide muw usang dimakan waktu, tuangkanlah dalam goresan tinta keabadian.....

Dirgasme

Minggu, 17 Juni 2012

keinginan adalah sumber penderitaan yang letaknya ada dipikiran, tetapi entah mengapa setiap insan berlomba-lomba ingin memenuhi pikirannya dengan berbagai keinginan, maksud saya pengetahuan.

hmm mungkin bisa saja sebagai jalan dalam pencarian jawaban atas segalanya, tapi bukankah semakin banyak pengetahuna yang dimiliki seseorang, semakin banyak pula keinginan yang inginkan ? dan tentunya itu belum #dantakakan pernah terpenuhi.

bukankah inti dari pengetahuan untuk memanusiakan manusia (humanisasi) ?

lantas mengapa ia berubah menjadi sosok yang begitu menakjubkan dan cenderung akan menjadi candu. setiap insan berlomba-lomba untuk memenuhi pikiran mereka dengan pengetahuan (tanpa rasa munafik, penulis merupakan bagian dari hal tersebut) dan pengetahuan akan mendorongnya untuk menginginkan apa yang hadir dalam pikirannya, sebut saja sebagai penderitaan, atau mungkin sebut saja pikiran, humanisasi yang sesungguhnya hanyalah sumber penderitaan yang dicintai khalayak.


Malang,  10 juni 2012
terik dibawah gerbang terminal arjosari

SMART BOX

Senin, 07 Mei 2012


Smart box, mungkin seperti itu julukan dari saya buat benda yang satu ini. Bagi sebagian orang mungkin dia adalah jawaban atas segala pertanyaan ini, jawaban atas segala ke’instant’an masa kini atau bahkan jelmaan tuhan yang membuat segalanya menjadi mudah dan efektif untuk diselesaikan. Selamat tinggal dunia kemalasan, selamat tinggal waktu yang telah banyak terbuang semua segera akan menjadi lebih baik.

Saya  mengenal benda tersebut saat saya masih duduk di kelas I SMP pada tahun 2001. Saya bersekolah di SMP Negeri 4 Makassar. Mata pelajaran teknologi informasi tepatnya yang memperkenalkan saya dengan benda tersebut, DOS Operating System itu yang pertama kali disebut guru pelajaran ini. Selanjutnya kami, para murid, diharuskan membeli satu disket kecil dan satu disket besar yang katanya berguna untuk menyimpan data.


Saya menyampaikan hal ini kepada orangtua saya agar segera memenuhi permintaan guru saya. Ayah saya pun membelikan saya disket kecil. Tapi ia juga mengatakan bahwa disket besar sudah tidak diproduksi lagi. Serentak saya pun merasa, apakah ini bentuk keterbelakangan saya atau perkembangan dunia yang memang cepat. Apapun itu saya tidak perlu. Yang terpenting pada masa itu saya masih dan harus tetap bermain dengan teman-teman di sekitar saya.

Singkat cerita, pertama kali saya memiliki benda tersebut yakni ketika memasuki bangku sekolah menengah atas. Itu pun bukan karena asas kebutuhan, melainkan pengaruh lingkungan sekitar dan takut tertinggal dengan teman-teman saya (mungkin lebih tepatnya hanya karena gengsi dan enggan dikatakan gaptek [gagap teknologi]). Untuk itu, orangtua saya harus menjual sepetak sawah miliknya di kampungnya, Palopo, sekitar 300 kilometer utara Makassar. Harapannya agar benda ini bisa membantu proses belajar saya. Namun tentu saja benda ini bukan tujuan kepemilikan untuk saya sendiri, tapi saya pakai berdua dengan kakak saya. Fungsi lainnya, benda itu furniture tambahan di dalam rumah.

Kehidupan saya pun berubah drastis sesaat setelah hadirnya benda tersebut. Budaya konsumerisme semakin melekat dengan saya. Saya hanya memikirkan bagaimana cara mempercantik atau pun memperbagus benda tersebut, baik secara isi maupun penampilannya. Waktu saya banyak terbuang di hadapan benda tersebut. Bukan untuk sesuatu yang lebih berguna melainkan hanya untuk memutar lagu, bermain game, menonton dan mengoleksi film biru (hal yang wajar untuk usia saya pada waktu itu), dan terkadang juga untuk mengetik tugas manakala guru mengharuskan menggunakan benda tersebut.

Banyak hal yg tanpa saya sadari berubah secara drastis. Saya tak pernah lagi keluar rumah untuk bermain dengan teman-teman saya. Saya hanya memikirkan bagaimana cara secepat mungkin untuk bertemu dengan benda tersebut. Bahkan sering saya harus berlomba pulang sampai ke rumah dengan kakak saya hanya untuk bertemu dengan benda ini. Dan konsekuensinya, yang kalah (karena terlambat pulang) harus mengantri sampai yang menang (si cepat pulang) puas bertemu dengan benda tersebut. Aneh kan!

Melangkah jauh ke depan, belakangan ini saya baru menyadari akan apa yg telah terjadi di kehidupan saya tentunya sangat mengkhawatirkan akibat dari benda ini. Bayangkan saja jika dulu ketika saya masih kecil dulu segala bentuk permainan tak akan nikmat jika tak dilakukan bersama. Dalam setahun dulu ada berbagai musim, seperti musim layangan, kelereng, wayang, bola gebo, permainan karet, main bom, petak umpet bahkan sampai musim sepeda terasa aneh jika dilakukan sendiri. Dalam setiap permainan tersebut kita diajarkan untuk kekompakan, kebersamaan, rasa memiliki, berkompetisi, dan sebagainya.

Namun seiring perkembangan yang diciptakan komputer, permainan rakyat di atas tak lagi populer bahkan terancam punah (ini merupakan bagian dari budaya). Segala sesuatunya harus dilakukan sendirian dengan jarak yang jauh. Sebut saja jaringan sosial yang marak sekarang ini, ia takkan nikmat jika memainkannya secara bergerombol dalam suatu ruang meskipun masing-masing personal memiliki benda tersebut.

Apatis? Mungkin itu yang akan terjadi jika dilakukan bersama. Kita tak perlu saling bertatap muka dan salaman lagi jika hendak berkenalan ataupun mengucapkan sesuatu (ucapan selamat sampai permohonan maaf).

Apakah ini merupakan suatu kemajuan atau kemunduran?

Bayangkan saja jika dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan orang-orang yang tumbuh dewasa bukan lagi dari orang-orang yang hidup di zaman sebelum hadirnya komputer. Mungkin tepat juga kata Marcos, perang dunia keempat tengah berlangsung dengan cara yang berbeda. Anda tidak perlu menghancurkan manusianya, cukup menghancurkan sisi kemanusiaannya.

4 Mei 2012
Menggunakan benda tersebut, KOMPUTER
(Nb: tulisan ini juga dipublikasikan di http://tanahindie.net/?p=421 dalam rangka penelitian perkembangan sosial budaya makassar menggunakan "kendaraan" komputer)

knowledge is power

Kamis, 03 Mei 2012

Hari ini tepat 2 mei 2012, dimana bagi sebagian orang hari ini dinamakan sebagai hari pendidikan nasional. Entah istilah itu kapan dan datang dari mana, aku tak berniat untuk mengetahuinya. Yah karena itu hanyalah simbolisasi semu yang lebih bersifat materialistik.

Seperti biasanya bangun disiang hari, berharap dunia disekitarku akan jauh lebih baik sesaat setelah aku terlelap dari mimpi indahku. Yah aku tidur bukan karena rasa kantuk yang menyelimuti, tapi hanya karena sejenak ingin meninggalkan dunia antah berantah ini menuju dunia yg kubangun sendiri dalam lelapku.

Cuci muka, mandi (kalau perlu) dan melakukan aktivitas sehari-hari merupakan sebuah kerutinan bagi mereka yg hingga kini masih disebut manusia, begitu pula aku. Nothing about ordinary, semua begitu biasa saja seperti hari kemarin, mungkin sebagian orang hari ini adalah sebuah hari yang patut dirayakan. Maksud saya digembor-gemborkan dengan cara pribadi masing-masing, yah sebut saja dengan corat-coret kata manis diberbagai media sosial yang sebenarnya itu hanyalah semu belaka dan saya yakin keesokan harinya semua itu akan hilang dengan sendirinya seiring pergantian tanggal.

Bagi sebagian orang sekarang mungkin masih tanggal tua, -yah berhubung kita bukan pegawai negeri yg upahnya selalu tepat pada waktunya meskipun kerjanya kadang-kadang bahkan sering kali tidak pernah tepat-, jadi wajar saja ngutang diberbagai warung makan aalah sebuah hal yang lumrah. Kali ini pun aku hendak melakukan itu. Berjalan dengan segenggam kotak rokok dan sebuah Hp memantapkan langkahku ke warung kopi.

“Pakde’ kopi hitamnya satu agak pahit yah, biasa ngutang dulu” ujar ku.
“Sippp”, jawab pakde tanpa bertanya apapun.

“Semua berjalan begitu saja, bahkan aku tak menyangka saat-saat seperti ini aku mendapatkan pelajaran hidup lagi”

Sesaat setelah kopi ku disajikan mantap dihadapanku, percakapan (pelajaran) ini pun mulai berlangsung. Awalnya hanya basa-basi menanyakan kabar, kesibukan apa hari ini hingga aku menanyakan “pakde anaknya udah pada gede’ yah ?”
“anak saya lagi dipondok, sebentar lagi dia akan lulus. Aku sangat bangga dengannya” jawab pakde’
Dia anak tertua saya, adiknya yang satu lagi masih di sekolah dasar, tepatnya dikelas lima. Yahh walaupun sudah tua, saya masih berharap agar dapat menyekolahkan mereka sampai jenjang tertinggi (mungkin maksudnya sampai sarjana), lanjutnya.

Aku pun terdiam, tak tahu ingin berkata apa. Melihat usianya yang sudah mulai uzur (terlihat dengan rambutnya yang sudah memutih semua) saya salut dengan semangat dan harapan yang ia miliki. Ia kemudian melanjutkan ceritanya bahwa tempat kursus disamping warung kopi ini merupakan miliknya, hal ini membuatku semakin terdiam. Bukan tanpa alasan, melihat warungkopi tersebut yang hanya beralaskan tanah, berdindingkan bambu rotan (saya tak tahu padanan kata yang tepat untuk menggambarkannya) dan beratapkan jerami sangat kontras dengan tempat kursus tersebut yang beralaskan tehel putih mengkilap, berdindingkan tembok dan beratapkan genteng merah. Ia bisa saja memlih tinggal dirumah tembok tersebut namun ia lebih memilih tinggal dan tidur di warung kopi tersebut dengan alasan pendidikan jauh lebih utama maka ia lebih memilih tempat yg ia tempati sekarang. Ia berpesan apalah arti sebuah ke"mewah"an jika kau sendiri tak "mewah". Apalah arti akan kepemilikan. Yang penting ‘isi’ kegunaannya bukan siapa yg meng’isi’nya. Mungkin aku tak dapat menjabarkan secara jelas maksud perkataan tulisan diatas, tapi setidaknya aku dapat memahaminya.

Jika Kau ingin membunuhku, bunuh semangatku terlebih dahulu

2 mei 2012
Selamat hari pendidikan


ingatkan aku

Selasa, 24 April 2012

buku harian ini kutulis bukan untukku. tapi untuk masa depan, yg belum lahir... 

mereka yg berada dibuku harianku adalah mereka yg kelak menentukan masa depanku.. 



24 April 2012
remember this one, 
and say to me when you meet me again, another time exactly

It doesn't help when u say, It won't be easy & I can't do this

Minggu, 22 April 2012

seperti hari biasanya semua tampak tak istimewa bagiku. bangun pagi, segelas teh hangta kerap menemani aktivitasku. sekarang aku tengah berada jauh dari rumahku, jauh dari hidangan makanan yang tak senikmat makanan rumahku (yah ikan goreng ditambahi sedikit sambal terasi).

rasa malu kerap menghinggapi diriku, terlebih lagi pasca kelulusanku menyelesaikan program pendidikan dasar. semalam seorang kawan meluangkan waktunya untuk mengobrol denganku melalui media social, pembicaraan kami diawali dengan selentingan basa-basi "kamu berada dimana sekarang ?" | " aku sekarang berada diseputaran daerah kali code", jawabku. dia lalu menjelaskan sedikit sejarah mengenai tempat tinggalku

kali code itu arsiteknya bernama romomangun,dulu kondisinya ga beraturan tapi karena sudah ditata sama si romomangun, jadinya rapi warna warni semua rumah jadi riverfront tapi sayangnya kondisi sekarang sudah tak sebagus ketika romomangun masih hidup, banyk bangunan (beton dibangun di pinggir suangai)merusak citra riverfront itu sendiri.

awalnya aku tak menyangka akan mendapatkan sedikit sejarah mengenai daerah tersebut. yah wajar saja dia tahu banyak, berhubung dia anak arsitek dari universitas ternama di daerah ini. lalu percakapan kami pun semakin panjang yang kemudian ia lalu menanyakan aktivitasku sekarang. aku pun terdiam seperti manusia kehilangan akal

A : km ga kuliah lg?
kerja dmn?
D : mau lnjt jg sih s2 nya...
blum ada pikiran buat krj
A : pengangguran?
D : Seratus kakak
A : ckckck
magang gt?
dr pd nganggur
D : aku masih mau sekolah...
A : trserah deh
asal jgn memberatkan orang tua

badan ku tiba-tiba lemas, ingin ku teriak dan memaki diri sendiri. hingga sejauh ini pun aku masih memberatkan orang tuaku. aku seperti cerminan manusia masa kini, tak dapat berbuat banyak dan hanya mampu mencari berjuta kalimat untuk melindungi kondisi ku sendiri.

aku dengan segala yang kumiliki kini tentunya harus dapat berpijak diatas kaki sendiri. I'm a single person. I fight this world alone. What's your super power?

ibu senyumanmu yang kini masih dan akan terus tersimpan rapi dibenakku akan selalu memperteguhku dalam meraih mimpi-mimpiku. kelak akan kucari kebahagiaanku dan kubagikan pada mereka yang ada disekelilingku


21 April 2012
i can only write what i know. That's why I love reading...

i'll see you in the later morning

Selasa, 10 April 2012

Senin berbalut janji hari esok, langkahku pun mulai beranjak menyusuri batas kota, makassar. Hari ini langit tampak cerah dengan cercaan rutinitas kota, begitu pula dengan awan yg berbaris rapi dibawahnya. Tampak putih cemerlang bak gadis iklan body lotion. Ditemani dengan keluarga terdekatku, aku tampak mulai gelisah akankah semua ini cepat berlalu. Tak ada kata, tak ada canda, semua tampak lurus dengan pandangan yang aku sendiri juga tak mengerti.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya di “tanggal” kelahiranku dibulan maret, aku mampu menyelesaikan program studi dimana setiuap orang tua pasti akan bangga dengan prestasi tersebut. Namun hari itu taktampak begitu istimewa, aku dikelilingi dengan mereka-mereka yg berambisi langit. Mungkin sebagian orang menganggap aku merupakan salah satu atau sebagian dari itu, mengejar mimpi mengutamakan nafsu tanpa melihat kembali kondisi disekitarku, kondisi teman-temanku, Apakah mereka baik-baik saja ?

Apakah itu salah ? atau akulah kesalahan itu ?

Aku berada pada situasi yang bahkan diriku pun tak menginginkannya !
Disaat teman-temanku masih membutuhkanku, aku malah sibuk berorani dengan diriku sendiri. Mimpi, cita, nafsu dan ambisi bercampur menjadi satu memaksa masuk pada diriku yang sama sekali tak ku kenali.

Bukan maksud membela diri atau pun menyalahkankan kondisi. Desakan dari dalam, khususnya dia yg sangat aku hormati membuatku harus menanggalkan diriku pada satu kondisi. Yah 21 maret 2012 dan aku tak akan pernah menyesali itu, sebab itu hanya akan menjadi beban di hari-hari ku esok. Inilah yang disebut “keputusan”, baik untuk sebagian, buruk untuk selebihnya.



Hari ini aku pun beranjak pergi meninggalkan kota ku, mencari cita yang tak tahu kapan akan menghampiriku.

2 april 2012
Memasuki gerbang bandara sultan hasanuddin

lelaki "tanpa" hati

Sabtu, 03 Maret 2012

sahabat yang paling baik, yasmine c indriana, pernah bertanya :
siapa wanitamu sekarang ? mengapa kau tak mencarinya?

aku tersenyum mendengarnya dan kukatakan dalam hati:
hati itu seperti rumah singgah. Banyak, sangat banyak orang-orang yang berlalu lalang didalamnya yang kita benci, yang kita sayang, yang kita cinta. kita akan mengerti siapa saja sebenarnya sahabat, siapa hanya sekedar kawan dan siapa sebenar-benarnya cinta, setelah waktu yg menyatakannya sendiri didalam hati. seperti pasar malam, banyak orang yang datang, yang pergi dan bahkan kembali pulang. dan kelak saya akan mengetahui, siapa sebenar-benarnya seseorang yang bersemayam didalam hati dan tak pernah pergi...


aku tak pernah tahu
3 maret 2012, 02:00 WITA

Sepi Itu Sengit II

Kamis, 01 Maret 2012

Momen paling pribadi saya adalah ketika saya sedang berbicara dengan diri saya sendiri di dalam hati. Momen-momen semacam ini biasanya terjadi ketika sedang berada di atas motor. Jalanan yang ramai dan padat. Sinar matahari yang panas. Suara-suara mesin yang menderu. Para pengendara jalan yang anonim. Semuanya bahu membahu untuk menghasilkan ruang-ruang dialog instan bagi saya dan diri saya sendiri.

Surat Untuk Bapak II

Dear Bapak, apa kabar kau di sana? 

Lama kita tak jumpa, terakhir aku masih mengantarmu ke dokter. Sebesar ini aku masih takut ke Rumah Sakit sendirian. Lorong panjangnya, bau obat, wajah-wajah yang menahan sakit dan aroma kesedihan begitu mengental di sana. Aku tak suka ! 

Apa kabar kau di sana, masihkah lebih menyukai teh manis daripada air putih? Masihkah sendi-sendi pergelanganmu sakit? Yang kutahu kau masih tampan dan gagah, dan orang-orang masih bertahan pada pendapat bahwa aku adalah replikamu. 

Bapakku sayang, aku tahu kau belum membaca semua surat-suratku. Ini cuma masalah waktu saja kan. Kelak kau akan ada di beranda depan membaca suratku dalam bentuk lembaran  rapi dengan kacamata tuamu ditemani segelas teh  hangat. Sepanjang hari nanti kau akan sibuk bercengkrama dengan cucu laki-lakimu yang nakal. Menemaninya berdiskusi tentang harinya yang hebat di sekolah. Atau membantunya menerbangkan layang-layang sambil tergelak ramai. Sementara anak kecil yang dulu akran kau sebut botak akan terlihat lebih pendiam dengan buku kesukaannya atau berada di taman dengan ayunan ditemani neneknya yang cantik. 

Papa, aku tahu kau akan pulang. Kembali kepada rumahmu yang sebenar-benarnya.  Masihkah kau ingin membelikan majalah Bobo yang aku rindukan? atau membelikan kepingan CD Power Rangers untuk aku ? Ah Papa, saat itu akan tiba nantinya. Dan mimpiku adalah mimpimu juga pastinya. 

Tanpa kuminta kau pasti mengamini semua doaku, kuyakin itu. Akan kubangun rumah yang indah untukmu. Dipenuhi mawar, anggrek dan magnolia yang cantik dengan gazebo di taman belakang diiringi teriakan manja yang minta dibacakan cerita. 

Aku tak hendak berjanji padamu, namun kuletakkan usaha sebaik-baiknya di tangan Tuhan. Kuyakin kelak ia akan mendengar doa cucumu satusatunya yang dulu badung ini. Dan aku yakin semesta mengamini untuk semua doa yang kutambatkan di perahu hidup.













Hari ini aku merayakan ulang tahun tanpamu lagi
21 November 2011

Seni dihari senin

Sabtu, 26 November 2011

kepada raga yang terabaikan TERIMA KASIH  telah menemani hidupku dengan cerita. adalah dirimu, dimana nafasku berteduh disetiap malam.

kau selalu menemaniku tampak cemerlang disetiap saat

serupa bengkala, aku selalu memberi kotoran sesaat dirimu rentan. aku daun, kamu rintik hujan, aku hanyalah tempatmu singgah sebelum memeluk bumi.

tertawalah, biarkan semua luka menjadi duka dan aku kan nyaman dipersembunyianku; DIAM
21 November, ini kemenangan kita. menarilah dan tangisi itu.

aku takkan menunggu hujan hanya untuk sebuah pelangi. kan kuw lukis dan kupandangai sesuka hati.
aku akan pergi, kan kutitipkan ragaku pada pena ini, tengoklah ia sekali - kali, akan ada pesan yang kutitipkan.
"semoga kamu tak larut dalam keriangan"

seni yang bersemi dihari senin, dan kita adalah kata yang terlambat tercipta kelak....

selamat ulang tahun ragaku
selamat ulang tahun jiwaku
dan tuhan menyaksikan itu

dirga, 21 menit menuju 21 november
 

Lorem

Ipsum

Dolor