life is a big joke

Jangan biarkan ide muw usang dimakan waktu, tuangkanlah dalam goresan tinta keabadian.....

Afirmasi Kematian Tuhan

Minggu, 16 Maret 2014



Minggu ini merupakan penghujung perkuliahan semester ganjil. Seperti biasanya, aku melangkah dengan malas menuju kampus. “Perjalanan” ku kali ini sama sekali tak aku mengerti, melangkah jauh mempelajari bahasa yang tak sekalipun pernah terlintas dipikiranku, Bahasa Rusia. Bukan perkara mudah memangnya. Meskipun bertahun-tahun bermukim di Beruang Merah, tapi tak ada satu pun legitimasi yang dapat dijadikan benteng dalam penguasaan bahasa tersebut.
Pagi itu jarum jam di pergelangan tangan kananku menunjukkan pukul 09.30, kurang. Ini menandakan pelajaran hari ini akan segera dimulai. Diawali dengan pembahasan pelajaran minggu lalu yang tak sekedar berbasa-basi, mengecek tugas yang diberikan. Bak biduan kecil berdasi merah, tangan lemah ku mengambilnya didalam tas.
------------------------------::-------------------------------
Sebelumnya...
Berawal dari percakapan, di salah satu situs media sosial, Facebook,  bersama seorang wanita -mungkin  lebih tepatnya seorang “gadis”, yang kegadisannya semerbak bunga bangkai. Jari lentik ku dengan lincah menari diantara tuts-tuts keyboard.
Entah bagaimana awalnya, percakapan saat itu diselingi dengan cerita kegiatan sehari-hari. “Aku sedang menonton film” tuturnya. Bak pejantan yang tak ingin kehilangan momen menatap betina, aku pun mencoba mengulur-ulur pembicaraan hingga pada jenis film yang ia sukai. Dan Tentu saja seperti betina pada umumnya, ia menggandrungi palsunya kisah romantisme “film Korea”.
Waktu pun kian memanjang. Aku mencoba memberikan referensi film yag menurutku cukup bagus, “Bunga Kering Perpisahan”, saranku. Sebuah film yag mengisahkan tentang percintaan postmodernisme yang tak lagi mengenal batas kepercayaan. Jika Tuhan mu saja dapat kau khianati, bagaimana aku yang hanya seorang kaum. Percakapan malam itu pun berakhir dengan janji olehnya, “aku akan segera menonton film itu”
Sembari menanti komentarnya akan film tersebut, aku mencoba memutar kembali film yang #lagilagi menurutku menarik. After Shock, sebuah film dari Asia Timur, China. Film kisah nyata yang menceritakan tentang peristiwa gempa bumi di daratan China pada dekade tahun 1970-an. Film ini menurutku patut ditonton, selain alurnya yang bagus, juga terdapat ada beberapa hal yang hikmahnya dapat kita “curi”. Behind the Tragedy
Film ini berawal dari kisah sebuah keluarga dengan Seorang ayah, Ibu dan masing-masing satu anak laki-laki dan perempuan. Pada saat gempa terjadi, kedua orang tua anak tersebut sedang lembur bekerja disalah satu proyek pembangunan gedung. Dan tentunya kedua anak tersebut dengan pulas tertidur dirumah.
Gempa meruntuhkan bangunan flat tempat mereka bermukim, singkatnya Ayah mereka meninggal tertimpa runtuhan bangunan, seperti buah simalakama yang membunuh tuan pendiri bangunan. Ibunya dihadapkan pada pilihan menyelematkan salah satu anak mereka, Laki atau perempuan. Pada akhirnya Ibu sang anak lebih memilih sang pria dan  anak wanita yang awalnya telah diduga meninggal kemudian diselamatkan oleh seorang perwira, yang pada saat itu menjadi sukarelawan bencana, yang belum memiliki anak.
------------------------------::-------------------------------
Pada 28 Juli 1976 sebuah peristiwa gempa bumi  terjadi di Tangshan, China, yang memakan korban jiwa hingga 240.000 orang[1], namun banyak ahli memperkirakan kurang lebih 700.000. Sehari sebelumnya peristiwa, disebuah desa di luar Tangshan, dilaporkan air sumur naik turun hingga tiga kali. Di desa lain, sumur-sumur menyemburkan gas pada 12 juli dan mencapai puncak pada 25 dan 26 Juli. Selain itu hewan-hewan disekitar Baiguantuan menolak untuk makan dan terus berkicau #kukuruyuk.[2]
Siang sebelum peristiwa gempa terjadi, langit terlihat seperti mengeluarkan cahaya berwarna putih dan merah. Daun-daun di pohon terbakar dan sayuran hangus hanya di satu bagian, seperti terkena bola api, dan dalam sekejap kota diratakan. 93% dari bangunan perumahan dan 78 % bangunan industri hancur total. 80 % dari stasiun pompa air rusak berat dan pipa air rusak di seluruh kota. 14 % dari pipa limbah rusak berat.[3] Pada periode ini kita juga tidak dapat melepas pisahkan kondisi perpolitikan yang terjadi di China. Kekuasaan partai politik komunis China pun ikut terguncang. Mao Zedong menderita serangan jantung dan komplikasi lain akibat dari usia tua dan konsumsi rokok yang berlebihan. Dan akhirnya meninggal pada tahun yang sama pada 9 September. Dilain sisi, Zhou Enlai menentang Revolusi Kebudayaan yang digombarkan dan mendorong “Empat Modernisasi” China; pertanian China, industri, ilmu pengetahuan, dan pertahanan nasional.
Gempa bumi besar Tangshan tahun 1976 adalah bencana alam terburuk dari abad kedua puluh, dalam hal hilangnya nyawa dan sejarah perpolitikan China. Namun, gempa tersebut terbukti berperan penting dalam mengakhiri Revolusi Kebudayaan yang merupakan salah satu bencana buatan manusia terburuk sepanjang masa. Atas nama perjuangan Komunis, Revolusioner Budaya menghancurkan budaya tradisional, seni, agama dan pengetahuan. Mereka menganiaya intelektual, mencegah pendidikan bagi seluruh generasi, dan dengan kejam menyiksa dan membunuh ribuan anggota etnis minoritas. Sepuluh tahun sebelumnya, 1960-an, Amerika Serikat menyerbu Vietnam atas dasar untuk mencegah penyebaran komunisme memasuki wilayah Asia Tenggara, Thailand, Singapura, Malaysia dan Indonesia. Pada periode ini juga ditandai pergantian rezim kekuasaan Orde lama – orde baru.
Dalam artikel  Business Week, 19 Oktober 2005, menuliskan bahwa Jhon V Neumann pasca perang dunia II mulai bekerja melakukan proyek modifikasi cuaca yang bertujuan untuk mengalahkan negara komunisme dengan menyebabkan kekeringan di Uni Soviet, taktik Cloud-Seeding. Dilaporkan bahwa militer AS menghabiskan $ 2.800.000 /tahun untuk membiayai penelitian modifikasi cuaca.
Perang Vietnam merupakan awal kali penggunaan proyek modifikasi cuaca, yang kemudian disebut Weather Weapon. Dikenal dengan Proyek Popeye, dengan memperpanjang musim hujan untuk menghambat pergerakan musuh serta menghabiskan persediaan makanan mereka di jalur hutan berlumpur dan pada tahun 1976 PBB mengeluarkan relosusi yang melarang penggunaan senjata cuaca untuk kebutuhan perang.[4]
Permainan politik terkini, gempa bumi dahsyat menewaskan sekitar 700.000 orang, mungkin hanyalah sebuah peringatan dari Amerika Serikat untuk China, bahwa AS mengendalikan teknologi yang dapat memusnahkan negara China. China paham Amerika Serikat dapat menghancurkan negaranya tanpa perlu menginjakkan kaki di negaranya. China menyadari bahwa mereka tidak memiliki senjata untuk membalas serangan Senjata Cuaca ini. Tindakan seperti ini (akan) menghasilkan "Real-Politick”.
Ide dasar peperangan lingkungan ini sangat sederhana - jika suatu negara dapat mempelajari bagaimana cara memicu terjadinya bencana alam yang dapat mengakibatkan kerusakan parah terhadap musuh melalui hujan, banjir, gelombang pasang, gempa bumi, dan bahkan perubahan iklim yang dapat menghancurkan pertanian negara musuh".[5]
------------------------------::-------------------------------
Melangkah Jauh kedepan, kedua anak korban gempa bumi tersebut telah tumbuh menjadi dewasa. Mereka kembali dipertemukan pada peristiwa gempa bumi yang terjadi di Sichuan,China,  pada tahun 2008 dengan menjadi sukarelawan.

Kebutuhan manusia akan Science, untuk bertahan hidup,
Akan membunuh Tuhan dari dalam dirinya #Nietsche



[1] Tangshan: The Deadliest Earthquake
[2] Chen Yong, et al, The Great Tangshan Earthquake of 1976: An Anatomy of Disaster (New York: Pergamon Press, 1988) 53.
[3] Tangshan: The Deadliest Earthquake (Page 2)
[4] The United Nations Disarmament Yearbook, Volume I. 1976
[5] Baca WEATHER CONTROL AND WEATHER WARFARE

0 komentar:

Posting Komentar

 

Lorem

Ipsum

Dolor