life is a big joke

Jangan biarkan ide muw usang dimakan waktu, tuangkanlah dalam goresan tinta keabadian.....

Aungan Macan untuk Sang SAPI

Kamis, 10 Februari 2011

Hahahaha….
(lebih keras lagi)Hahahahahahahahahaha…
(dan lebih keras lagi) hahahahahahahahahaha…
Izinkan saya tertawa sebelum mengukirkan fenomena ini, jika anda pun menginginkannya, SILAHKAN !!!! karena tertawa merupakan pengintrepretasian jiwa terhadap apa yang tengah dirasakan oleh subjeknya.
Keadilan, kebersamaan, kebesaran, kesopanan, dan entah apapun pemanis bibir yang selalu terdengengung resah dilorong hitam daun telingaku…
Kini, sekarang, esok, nanti, dan kemarin atau bahkan dua hari yang lalu, tiga hari yang lalu, sepuluh ataupun dua puluh tahun yang lalu Itu selalu menjadi mukjizat bagi mereka para pendongeng keadilan, pemimpi kesucian, pecandu kedamaian untuk sebuah kebesaran ego…
Hey, pernah kalian mendengar “negeri para bedebah” ? atau mungkin “INDONESIA”, hmmm lebih tepatnya “INDON SIAL” ?
Yahhh sebuah tempat dimana kau akan menemukan BHINEKA TUNGGAL IKA, berbeda beda namun tetap satu, satu seragam akan semuanya…
“INDO”, secara harafiah bugis dia akan bermakna Ibu, atau pun induk
“NE”, yang merupakan bahasa serapan dari negeri saudara yang jauh disana, INDIA. Dalam bahasa India NE atau lebih akrab dengan “NEHI” bermakna tidak
“SIA”, dalam EYD menggambarkan sesuatu yang tidak berguna atau dalam bahasa kerennya kadang disebut “USELESS” yang kemudian jika diperhadapkan dengan sebuah subjek, maka subjek itu akan dinamakan “FOOL”
INDONESIA, ibu (Negara selaku induk dari penghuninya) yang tidak berguna atau mungkin lebih tepatnya INDOFOOL, sama seperti INDOFOOD yang tak bergizi yang merupakan salah satu makanan pokok di INDOFOOL atau pun INDONESIA.
INDOFOOD, makanan yang diberikan ibu (Negara) kepada penghuninya agar mereka menjadi “NE” yang kemudian bermetamorfosa menjadi “SIA” dan pada akhirnya akan bermuara pada “FOOL”
Lantas apa lagi setelah itu ? cukupkah sampai disitu ?
TIDAK…

Dia kemudian akan ber evolusi menjadi INDON SIAL
INDON, dalam bahasa melayu akan bermakna budak dan SIAL, dalam EYD dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana subjek tidak akan mendapat nasib yang baik/tidak beruntung, dan dalam bahasa kerennya kita menyebutnya UNLUCK yang takkan ter-UNLOCK, suatu kondisi yang terus terselimuti ***L yang lama kelamaan membuat para penghuninya “UNNEK” (baca ENNEK)
Hey, apakah kalian pernah meliat lambing suci dari negeri itu ?
GARUDA, terpampang vulgar dan megah dibalik tiraian kain MERAH dan PUTIH yang menyelimutinya dengan bangga.
GARUDA, melambangkan sebuah kebesaran, kejantanan, kebuasan sebuah burung yang mempunyai kaki yang kokoh serta taji dan kuku yang tajam (setajam silet), yang siap menerkam siapa saja yang coba untuk mengganggunya. Dua buah sayapnya yang lebar yang bermandikan emas melambangkan sebuah kekayaan yang dimilikinya, kepala burung garuda yang menghadap kanan melambangkan sebuah kejujuran, atau apapun itu yang berkaitan dengan kebaikan.
MERAH, dalam hemat penulis mencerminkan sebuah keberanian, ketegasan, dan (tolong bantu saya memaknai MERAH) dan PUTIH, melambangkan sebuah kesucian, kebersihan, keindahan.
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..sejenak berfikir
Apa yang kalian lihat sekarang ? apa yang kau rasakan sekarang ?
Masih relevan kah ? hmmmm mungkin apa yang ada dibenak kalian sama persis denganku atau mungkin berbeda !!!! yah sudahlah semua itu hanya kemewahan yang tak berguna, yang justru membuat kita larut beronani terhadap semua kemewahan itu.

SAPI, bisakah kalian mengintrepretasikan pemaknaannya ketika diperhadapkan dengan sebuah subjek ? yah entah itu individu, kumpulan individu (Negara).
SAPI, pemaknaan untuk sebuah kemalasan, kebodohan, korban (qurban, selalu menjadi korban untuk menghidupi manusia(Negara)/dijadikan santapan nikmat)), kekotoran (seperti mandi tedong).
Lantas, kemana baiknya kita mengalamatkan SAPI tersebut ?
Kalau saya mengatakan, bahwasanya aku, kamu, dan mereka yg hidup dinegeri ini pantas, bagaimana ?
Kalian masih ingatkan BHINEKA TUNGGAL IKA ?
Tak peduli kalian professor, pejabat, petani, guru, pengusaha, seniman dll, walaupun kita berbeda-beda namun tetap satu jua, diselimuti oleh satu INDON SIAL.
Yah walaupun kita mempunyai begitu banyak symbol-simbol yang terbaik, tapi itu DISFUNGSIONAL dan tak beriringan dengan realita apalah artinya ?

Hey pernah kalian melihat lambang Negara lain yang juga hanya menggunakan warna MERAH PUTIH ? yang tentunya negeri itu lebih hebat dari negeri kita, saking hebatnya garuda pun tak bisa berbuat banyak ketika berhadapan dengannya.
Penulis memanggilnya dengan sebutan MACAN.
Binatang yang dianggap buas, memiliki totol hitam yang menambah nilai buas hewan tersebut. Mengaung tatkala ia menemukan musuh dan melihat mahkluk asing didepannya. Mencakar, mencabik, denngan peluhnya sendiri. Menghantam apapun yang menjadi titik sasaran dalam benaknya.
Dia begitu jantan dan berani, tak sedikit pun terbesit ketakutan dan keraguan yang ada didalamnya. Dialah yang menjadi julukan JEPANG selama ini, JEPANG sang MACAN ASIA. MACAN bukan sekedar MACAN, dan itu bukanlah isapan jempol belaka ataupun kata-kata kiasan yang biasa terbaca untuk melambangkan sesuatu.

Semoga Semua tetap tersenyum, semoga semua selalu damai, tentram didalam selimut kebahagiaan.

atas nama perubahan ke arah yang lebih baik dan bentuk tanggapan atas tulisan ini “Kiat Tepat Hadapi Kritik” maka saya melakukan perubahan ini demi sodara-sodari semua…

tulisan ini saya dedikasikan khusus buat kalian agar supaya merasa sedikit risih dan terketuk pintu hatinya…mudah-mudahan saja kalian semua yang mengerti bisa berubah ke arah yang lebih baik demi stabilitas negara ,ketuhanan yang mahas esa,kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan indonesia,perdamaian dunia,kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan keadilan sosial…amin?

tulisan ini juga dipublikasikan di http://www.facebook.com/dirgasirajuddin

kehangatan waktu

Rabu, 02 Februari 2011

Ditengah kesunyian malam kuw coba merangkai kata untukmuw…
Selamat malam, ibu !!!
Atau mungkin selamat pagi, siang, sore, atau kapan pun ibu membaca tulisan ini. Itu pun seandainya saja surat ini sampai ke telapak tangan ibu. Jujur, tulisan ini memang tak kuw alamat kan padamu, karena apalah arti tulisan word ini jika sanya hendak dibandingkan dengan kasih sayang muw. Selain itu, saya juga ingin minta maaf karena tak memberi tahu terlebih dahulu kepada muw kalau sanya aku hendak membuat coretan tangan ini. Itu pun kalau ini masih bisa disebut coretan tangan.
Ibu, masih ingat kah kau kapan kita, maksud saya, saya, adik, kakak, dan ayah makan bersama didampingi canda tawa itu ? sepertinya sudah banyak yang kita laslui. Dan saya juga sepertinya sudah tak bisa mengingatnya. Setelah melalui berbagai konflik bathin, saya putuskan mengutarakan semuanya kepadamu.
Ada beberapa hal yang membuat saya tertegun, dan terlalu indah untuk tak kuw sampaikan kepada yang lain. Saat memasuki bulan ramadhan menyambut bulan nan suci, ibu memilih untuk tak mengenakan pakaian baru seperti lazimnya, hanya untuk agar anak-anak muw dapat mengenakan pakaian baru dan agar supaya mereka tak berkecil hati dengan teman-teman sebayanya.
Saat hidangan rejeki diatas meja makan yang begitu lahap untuk disantap, ibu memilih untuk tak memakannya dan menunggu anak-anakmu pulang dari sekolah untuk menyantapnya.
“ibu sudah kenyang nak”
Kata-kata itu menyentuh hatiku. Dengan segala kondisi, kau tetap bisa berbohong dan tersenyum untuk kebahagiaan anak-anakmu.
Saat kuw mulai dewasa dan melanjutkan pendidikan disalah satu SMA favorit dikotaku, yang kemudian aku mengecewakan muw hingga membuat ibu harus mondar-mandir menemui guru pembimbing akibat kenakalankuw, dank au pun tetap tersenyum dan tak sekalipun rona kekecewaan kau hadapkan padku. Saya belum pernah melihat orang setegar ibu, dan saya salut padamu, bu !!!
Mungkin, saya tak akan pernah bisa melupakan kasih sayang muw (dan itu pasti). Ibu adalah seseorang yang m,emiliki sebuah prinsip teguh tentang kesabaran dan ketabahan. Juga keikhlasan dan rasa syukur. Ibu tak pernah mengeluh untuk setiap cobaan yang datang menerpa padamu (keluarga). Hal itulah yang menurut saya jarang ditemui dalam diri saya pribadi.
Ibu selalu rendah hati, tapi tidak rendah diri. Ibu selalu mencoba untuk tetap tegar dan menatap dunia dengan sudut yang berbeda. Mencoba terus mengarungi waktu walaupun kadang banyak orang yang memandang sebelah mata padamu.
Inu, kalau saya bisa, saya ingin selalu terus berada dalam dekapan muw, saya ingin terus bersamamu meskipun kuw tahu waktu tak pernah sepakat untuk hal itu.
Saya tak tahu apakah ibu akan senang kalau tulisan ini sampai kepadamu. Tapi, yang pasti saya tahu, kalau otang yang pertama membaca tulisan ini (selain saya sendiri), tentunya bukan ibu. Saya tak perlu khawatir kemana kelak tulisan ini akan bermuara, yah mungkin dari tulisan ke tulisan (copy paste) yang dilakukan orang lain, atau mungkin tulisan ini hanya akan mampir diblog pribadiku. Tapi yahhh itu bukan lah sesuatu hal yang penting !!
Saya tak tahu apakah tulisan ini akan sampai ketangan ibu. Kuw harap, siapa pun anda yang membaca tulisan ini, tolong sampaikan tulisan ini pada ibuku, agar ia mengetahuinya, agar ia mengetahui perasaan kuw padanya.
Tolong katakana pada beliau, dia akan selalu hidup disetiap aliran darahku sebagai seorang yang sangat berjasa dan kuw kagumi.
Kalau memang ibu membaca tulisan ini kelak, kuw hanya ingin mengatakan aku selalu menyayangi muw, bu!!, seperti ibu yang selalu menyayangiku.
Terima kasih byank kukatupkan kedua tanagn kuw dihadapan muw…

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada anda yang meluangkan waktunya untuk membaca tulisan ini.

Sampaikan salam dan hormat kuw pada ibu muwdirumah….

Yaaaahhh Semoga Semua tetap tersenyum, semoga semua selalu damai, tentram didalam selimut kebahagiaan

Makassar 1 february 2011

tulisan ini juga dipublikasikan di http://www.facebook.com/dirgasirajuddin

Sepatah Kata Tentangnya

Selasa, 01 Februari 2011

...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................Mam..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................Ma..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................






















Makassar, 31 januari 2011
Pandang sebuah foto usang, dimana semua tertawa ria. Terharu hati ingin mengenang, akan tulusnya kasih sayang, darimu….
Maafkan aku tak pernah bisa untuk membalas semua cinta. (arilasso’s lyrics)

amnesia budaya

Senin, 17 Januari 2011

Malam penuh kegelisahan menemaniku sesaat kuw mulai menulis tulisan ini. Berhubung coretan tangan yg tlah kuw rangkai dikertas lenyap entah kemana….
Dengan penuh kesesalan aku pun harus menulis kembali ide yg tlah tertuang dikertas itu…

Ok…
Seperti biasanya kuw selalu memulainya dengan hal hal biasa yg kuw alami.

13 januari menjelang fajar menampakkan cahayanya, kuw mulai beranjak meninggalkan kebisingan kota menuju sebuah desa yang letaknya ±16 jam perjalanan via darat untuk menghadiri acara perkawinan adik bungsu dari orang tua kuw. Sesampai disana awalnya biasa saja, canda tawa yang dirangkul oleh hangatnya sebuah kekeluargaan, namun perlahan hal biasa tersebutlah yang membuatkuw dapat mempelkajari sesuatu yg tidak biasa.
Yaaaaahhhh aku merasakan sesuatu yang lebih baik disini, sesuatu yang lebih indah disbanding tempat kuw berdomisili, tempat dimana penuh akan kebisingan, individualis, keserakahan, dan segala bentuk ketidak-adilan yg tlah merusak nilai-nilai kehidupan. (subyektif penulis)
Ok, memang kecenderungan SDM didesa itu jauh lebih rendah disbanding tempat kuw berdomisili, namun hal tersebutlah yang menyadarkankuw akan sesuatu hal, sesuatu yg bari kuw sadari….

KOLEKTIVITAS
Yahhhh mereka menuhankannya, mereka menjunjung tinggi hal tersebut, tak ada yg paling berharga dari hal tersebut. Tentunya ini sangat berbanding terbalik ditempatku berdomisili.
Yahhhh mereka pada umumnya berprofesi sebagai petani yg kerjanya hanya berladang disawah, dimana mereka menaruhkan hidupnya pada alam bukan pada persaingan yg menuju keterasingan status, seperti yang kuw ilhami dari tempat kuw berdomisili…
Yahhhh disana segala sesuatunya bercampur menjadi satu, tidak peduli PNS, pejabat, guru, kontraktor, buruh, pengangguran berbaur menjadi stu. Tidak peduli dengan status social, tak ada yang diatas tak ada yg dibawah. Tidak peduli dengan segala symbol-simbol social perbudakan tersebut.

Aku bangga berasal dari desa tersebut, desa yg dipenuhi dengan petani, desa yg menurut kuw masih suci dari globalisasi (seperti yg sering kalian gembor-gembor kan)
Aku bangga dididik dan dibesarkan dari keluarga petani, setidaknya mereka mendidik kuw untuk menjadi seorang padi, tidak seperti tempatkuw berdomisili, yang sebagian besar dididik untuk menjadi seorang kaleng yang berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, dan BUKAN berlomba-lomba menjadi yang berguna…

Kalian tahu bagaimana benih padi itu menjadi sebuah nasi yang bergizi ?


Kalian tahu bagaimana benih padi itu menjadi tanaman padi ?
Yahhhh seperti itulah aku dituntun hidup, mereka memilih yg terbaik diantara banyak pilihan tempat kuw berpijar, hanya untuk memastikan aku menapakkan kaki ditanah yg subur, ditanah yang dapat memberiku sumber-simber pengetahuan bak hujan yg setia menyiraminya…
Kalian tahu bagaimana padi-padi itu menjadi beras yang unggul ?
Seperti itulah aku dididik, mereka menyekolahkan aku disekolah yg dapat memberikankuw ilmu bukan disekolah yg dapat memberikanku kemewahan hidup, memberikan kuw kemudahan. Mereka menganggapku bagaikan tunas yg tumbuh, yang diberi pupuk unggulan dirawat, diajar dengan penuh perasaan, dan tentunya bukan dengan selebaran kertas yang memiliki angka nominal .
Kalian tahu bagaimana beras-beras itu menjadi nasi yang kalian konsumsi ?
Yaaahhh seperti itu pula lah cara mereka meramu kuw, dibilas dari keserakahan duniawi, direbus agar kuw terhindar dari sikap individualis, hingga akhirnya mereka mengukuskuw untuk menjadi pribadi yang benar-benar matang, matang untuk disajikan dikehidupan nyata…
Yahhh walaupun terkadang beras-beras itu pula lah yg menghidupi para tirani ditempatkuw berdomisili, tirani yang justru menjadi boomerang bagi mereka.
Kuw tak tahu mengapa sgala sesuatunya menjadi seperti sekarang ini (Ishmael question?)
Bukan kah smakin tinggi pendidikan suatu kaum maka smakin baik pula lah kehidupannya…

TAPI ????

Yaaaahhh Semoga Semua tetap tersenyum, semoga semua selalu damai, tentram didalam selimut kebahagiaan.
atas nama perubahan ke arah yang lebih baik dan bentuk tanggapan atas tulisan kuw “Kiat Tepat Hadapi Kritik” maka saya melakukan perubahan ini demi sodara-sodari semua…
tulisan ini saya dedikasikan khusus buat kalian agar supaya merasa sedikit risih dan terketuk pintu hatinya…mudah-mudahan saja kalian semua yang mengerti bisa berubah ke arah yang lebih baik demi…amin?
Tulisan ini juga di publikasikan di hhttp://www.facebook.com/dirgasirajuddin

Ohhh ia, saat kuw mulai menulis dunia disekitarkuw tenga diramaikan dengan lagu “andai aku jadi gayus”
hahahahahahahahahahaha

...................

Minggu, 09 Januari 2011

Ibu,,,,
tak pernah aku mengira
tak pernah aku meraba
bahwa, hijaumu kini menua
aku pucuk waktu itu
kala kau rawat dari biji dan benih
kala kau semat dari hati nan putih
aku kau ibaratkan pualam
ditimang disayang
dikekang dari malang
dilekang dari gemilang
harta dunia yang demikian panjang yang kelak kan hilang
karena katamu….
"harta ada disini nak"
sembari kau usap lembut tepat di dadaku
hati maksudmu
sayu dan lembut kasihmu
saat ucap itu….
ibu,,,,
daun itu aku
kini mengembang
aku telah terbang
ikuti irama yang kau pendam
dalam dada dan jiwa ini
dalam riwayat kertas yang kau toreh
aku ikuti apa katamu
berjajar dibarisan Tuhan
semoga tetap jadi terdepan

dan kini….
aku bisa mengimami
meski belum berimam dalam biduk bahtera

ibu,,,
daunmu meski terbawa angin
warnanya tetap hijau bu'
kuw ucap syukur pada sang khalid
aku mengasihimu ibu
seperti kesederhanaan yang kau ajarkan
aku tetap biasa
seperti saat aku membantumu mengais keringat kehidupan
aku pahami ini
aku jalani dengan cinta
kasih sederhana untukmu

peluk dan sayang untuk setiap wanita yg tlah mendedikasikan hatinya kepada seorang anak…

lie, for her better life...

Rabu, 05 Januari 2011

Percakapan ini kuw lakukan disaat hujan deras mengguyur disekelilingkuw, adalah dia yang datang padakuw dan menceritakan apa yg tlah ia alami...

Matanya tampak begitu kelam, tak ada secerca sinar yg dapat kuw lihat dari matanya namun ia tetap tersenyum ketika mulut kuw hendak mengatakan sesuatu, “aku baik-baik saja, tak usah kau cemaskan bahasa tubuhkuw”, sembari menepuk bahukuw dan ia pun tertunduk menatap dinding teraskuw yg kini mulai basah….

Ia pun melanjutkan ceritanya padakuw, cerita yang selama ini membuatnya bahagia (walaupun kuw tahu itu tak seindah dengan harapannya). Ia berkata pada kuw bahwa sekarang ia tlah bahagia, karena wanita yang sangat ia sayangi telah menemukan tambatan hatinya dan tengah berbahagia disana….

“Aku pun heran namun aku tak punya kuasa untuk menahan ia menceritakan apa yang tengah ia rasakan”

“Yahhh aku harus bertanggung jawab”, katanya yakin menatap kuw, dulu aku tlah membuat ia jatuh cinta padakuw, namun seiring berjalannya waktu aku sadar bahwa aku tak cukup baik untuknya, aku tak seperti yang ada didalam mimpi indahnya….

Dan akhirnya dia pun memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kami lagi, “but actually it’s ok” pinta kuw dalam hati….
Walaupun kami tlah memutuskan hubungan namun jalur komunikasi antara kami tetap terpelihara, saling mengingatkan merupakan kebiasaan kami ketika malam mulai meredup…

Waktu trus berjalan dan aku mulai sadar akan keinginan dia untuk untuk mendapatkan SOMEONE NEW (setidaknya itulah yg sering ia tuliskan disalah satu jaringan social miliknya), dan aku pun sadar semua kini tlah berubah dan sebagai lelaki yg pernah disampingnya aku harus bertanggung jawab dan membantunya untuk mendapatkan SOMEONE NEW sesuai yang ia dambakan…

Dan pada hari itu aku pun berusaha untuk membantunya, dan cara pertama yang kuw lakukan yakni membuat agar ia dapat membenci kuw sedemikian mungkin, semua hal yang ia tak senangi aku lakukan… semua ini kuw lakukan agar ia dapat keluar dari bayang-bayang tentang kuw, KRITIKAN, ia sangat tak senang untuk dikritik dan aku pun memulainya dari sisi itu…
Aku acap kali memberinya kritikan pedas secara berulang kali sehingga ia pun mulai merasa tak nyaman dengan kuyw lagi….
(walaupun pahit semua ini harus tetap kuw lakukan hanya untuk dapat melihatnya tersenyum kembali)

Kehidupan pun silih berganti menghampirinya, begitu pula dengan SOMEONE NEW… ada begitu banyak yg datang dan pergi namun ia tetap belum dapat menemukan apa yagng iua harapkan…
Aku pun menghela nappas yang dalam dan berfikir’ “aku harus membantunya lebih giat lagi dan tentunya aku harus membuatnya lebih membencikuw agar ia dapat melupakan kuw”….


Semua ini kuw lakukan atas dasar tanggung jawabkuw yg pernah hadir dihidupnya berada disampingnya dan merusak mimpi-mimpinya…
Hari berganti hari bulan berganti bulan kini sgala sesuatunya tak seperti dulu lagi, kini ia tlah dapat melupakan kuw sepenuhnya walaupun terkadang bayang kuw selalu hadir disela-sela pejaman matanya…
Namun kini kuw dapat tersenyum , setidaknya ada hasil kini yg dapat kuw petik dari usahakuw untuk mewujudkan mimpinya…
Seiring berjalan waktu dan hadirnya beberapa SOMEONE NEW yg ia harapkan, akhirnya ia dapat menemukan SOMEONE NEW yg sesuai ia harapkan…

Aku tersenyum manis dan berpesan…
Salam kebahagian untuk muw selalu semoga kau selalu diselimuti mimpi yang indah…
Maaf aku harus berbohong padamuw, dengan berpura-pura melakukan semua hal yang tak kau senangi…
Tapi sesungguhnya aku hanya ingin membantu muw mewujudkan angan muw (seperti yang tertera disalah satu jaringan social milikmuw)
Aku pun terdiam mendengar cerita sahabat kuw, aku pun menepuk dadanya….
Namun aku kaget !!! ia tetap bisa tersenyum menatap kuw dan beranjak pergi bersama sang hujan yang kini tlah mulai meredah…
Mungkin rintikan hujan itu merupakan tetesan air matanya, aku tahu dibalik senyuman tegar sahabat kuw itu ada sebuah kesedihan yang mendalam yg coba ia sembunyikan dari dalam hatinya…
Pergilah sobat bersama mimpi-mimpi muw kuw tahu gadis itu juga sangat menyayangi muw dan sebuah kesalahan besar karena ia telah memilih orang yang ia sayangi ketimbang orang yg menyanyaginya...
kuw kan slalu menunggu muw disini sobat kuwonly time will heal…

Malam trus berlalu, dan tiba-tiba aku pun mulai membuka kedua mata kuw dan terbangun dari benaman mimpikuw…
Saat itu pula fajar tlah menyongsong menampakkan sinarnya…

Ohhh ia sebelum aku mengakhiri tulisan kuw ini, sahabat yang kuw maksud dalam tulisan ini yakni bunga mimpi kuw yg selalu menemaniku diredupan mata kuw…

Social interaction Vs Proporsionalisme

Minggu, 02 Januari 2011

Bismillahirahmani rahim…
Okey 1st from 2011…

Hari ini lagi-lagi merupakan hari yang sangat biasa buat saya bagi seorang mahasiswa. Sebenarnya setiap hari merupakan hari biasa buat saya, karena saya tengah menjalani liburan panjaaaaaang sekaliiiiii. Kesibukan saya yah begitu2 saja, kalau tidak kekampus yaahhhh paling stay at home.

Nothingout of the ordinary....
Tapi justru dari hari-hari biasa inilah saya bisa mempelajari sesuatu yang kadang-kadang tidak saya sadari sama sekali.
Semoga setelah membaca tulisan ini, kalian akan mengerti apa yang saya maksud "Belajar dari hal-hal yang biasa”.
Jadi, hari ini saya seperti biasanya bangun disiang hari yang merupakan rutinitas saya sehari-hari, mumpung lagi libur semester jadi porsi tidur saya lebih diperpanjang (hitung-hitung menghemat energi. Hehehe).
Ok…
Setelah lama tidur dari kegiatan tulis-menulis di dunia maya, di 1-1-11 ini kuw coba kembali mencoretkan secerca hal yang menurut saya agak aneh….
Ohhh yah sebelumnya sikon aku sebenarnya tidak terlalu sehat, flu berat menghampiri… yah mungkin karena over dosis di acara tahun baru.

Lets begin..
Belakangan ini ada begitu banyak kejadian aneh yang menurut saya merupakan suatu kejadian hilang akal sehat (all about emotion)…
Yahhh mungkin itu bisa mewakili penjelasan dari judul yang kuw angkat sekarang ini, ketika profesionalisme diperhadapkan dengan interaksi sosial. , dimana titik tekan dari tulisan ini yakni pendewasaan diri.

For example :
ada orang (A) yang di dalam esbuah rapat sedang berbeda pendapat dengan orang lain (B)…perbedaan pendapat ini memicu adu argumentasi..ok kita anggap saja si B menang argumentasi atas A…lalu stelah rapat, di luar ruang rapat si A ini masih menyimpan dendam atas kekalahannya dari si B, lalu si A ini jadi berlaku sinis pada si B (sampe ke dalam hati dan akhirnya dendam membara) hahahahahaha
could u imagine this one ?

Peka Ruangan
hal2 seperti ini semestinya sangat memalukan… kenapa?
yaaaa urusan di dalam ruang rapat cukup sampai disitu saja! tidak usah dibawa2 sampai ke luar ruangan, kalo berbeda pendapat, apalagi sampe berbeda prinsip, cukup satu ruangan rapat saja yang tahu…tidak usah dimasukkan ke hati…apalagi sampai dendam membara dan akhirnya rada-rada sensitive (sok hiperbola)
jadi sodari dan sodara yang pernah sinis, dendam, atau marah pada seseorang di dalam sebuah rapat, cukup sampai pada pintu ruangan rapat saja…diluar pintu itu adalah menjadi hubungan sosial lagi dan kalian smua jangan membawa-bawa apa yang ada di dalam rapat…jangan didendam…apalagi sampai menyebar gosip….(bisa kena UU pencemaran nama baik…)
hehehehehe…

Hubungan Kerja vs Hubungan Sosial
Al seperti inlah yang kemudian bisa dibilang tidak profesional…kenapa?
yah orang-orang yang seperti itu yang tidak bias membedakan mana hubungan kerja dan mana hubungan sosial…seharusnya hubungan kerja tidak disangkut-pautkan dan dicampuradukkan dengan hubungan sosial…jadi apa yang terjadi di dalam hubungan kerja sebaiknya tidak dibawa2 pula kepada hubungan sosial…
Selesaikan Masalah
Kalau ingin menyelesaikan masalah dengan orang yang bersangkutan, yahhh diselesaikanlah di dalam rapat…bukan diselesaikan di luar rapat (di hubungan sosial)…adalah pengecut sekali bagi anda yang menyelesaikan dengan cara seperti itu dan tidak di dalam sebuah forum rapat…
Yahhhh kalau di ruang barulah diselesaikan masalah tersebut.mau berdebat, saling memaki,teriak-teriak, lempar kursi, yang penting selesaikanlah masalah itu dengan bijaksana , setelah itu diluar ruangan rapat, yaaahhh hubungan kerja hilang dan menjadi hubungan sosial lagi…

Analogi
Jika di dalam sebuah pertandingan sepak bola,ketika Syamsul Haeruddin sedang membawa bola menuju pertahanan PSM yang dikawal oleh Djayusman Triadi, lalu Djayusman Triadi mensliding (mentackle) Syamsul Haeruddin dengan keras dan jatuh terguling2 lah si Syamsul …
Walaupun sudah giring bola jauh-jauh dari tengah lapangan dan selangkah lagi ingin cetak gol terus tiba2 di sliding (tackle) keras sampai jatuh Ta’bulinta tapi begitu peluit panjang ditiup oleh wasit menandakan 90 menit permainan telah usai , dan si Djayusman mendatangi Syamsul untuk bertukar kaos, dengan sikap sportif si Syamsul bertukaran kaos dengan Djayusman, lalu saling becanda2 dan berpelukan
itu yang namanya profesional dan sportif!!
disamping mereka membela tim nasional yang sama, para olahragawan ini juga udah dididik akan sportivitas yang tinggi…seandainya sportivitas semacam itu diterapkan di lingkungan sekitar kita, di kelompok2 sekitar kita, apakah itu OSIS, senat, himpunan, BEM, atau bahkan mungkin di telekrasi (birokrasi yg bertele-tele) skalipun, mungkin takkan ada lagi benci, takkan ada lagi dendam… nyanyikan semua lirik yang sama “nanananananananananana” (some lyrics from rocket rockers)

they have lost my respect....
Tidak peduli mereka seumuran, lebih muda, atau lebih tua. Yang harus direnungkan adalah.........
Are we truly better than they are? Think again.

Semoga Semua tetap tersenyum, semoga semua selalu damai, tentram didalam selimut kebahagiaan.
atas nama perubahan ke arah yang lebih baik dan bentuk tanggapan atas tulisan kuw “Kiat Tepat Hadapi Kritik” maka saya melakukan perubahan ini demi sodara-sodari semua…
tulisan ini saya dedikasikan khusu buat kalian agar supaya merasa sedikit risih dan terketuk pintu hatinya…mudah-mudahan saja kalian semua yang mengerti bisa berubah ke arah yang lebih baik demi stabilitas negara dan perdamaian dunia…amin?
Tulisan ini juga dipublikasikan di http://www.facebook.com/profile.php?id=100000746749776#!/profile.php?id=100000746749776

Rabu, 22 Desember 2010

rindu yang membelenggu sukma
begitu banyak kenangan yang tlah terukir
canda tawa, suka duka yang terbalut dalam kisah
hingga kuw selalu mengkhayalkannya

disetiap langkah muw...
selangkah tuk meninggalkan semuanya
kuw smakin diam tak berdaya
lemah terpaku menatap dunia

dijejak ingin muw melupakannya
kenanglah semuanya...

makassar, 21 desember 2010
ditengah hingar bingar asap jalanan....

Senyum yg terlupakan

Jumat, 10 Desember 2010

Hari ini lagi-lagi merupakan hari yang sangat biasa buat saya bagi seorang mahasiswa. Sebenarnya setiap hari merupakan hari biasa buat saya, karena saya tengah menjalani liburan panjaaaaaang sekaliiiiii. Kesibukan saya yah begitu2 saja, kalau tidak kekampus yaahhhh paling stay at home.


Nothingout of the ordinary...
.


Tapi justru dari hari-hari biasa inilah saya bisa mempelajari sesuatu yang kadang-kadang tidak saya sadari sama sekali.

Bingung?
Jelas saja, orang saya belum jelaskan apa yang saya alami hari ini.....
Hehe....

Semoga setelah membaca tulisan ini, kalian akan mengerti apa yang saya maksud "Belajar dari hal-hal yang biasa." (Kalau masih tidakmengeti pakow Itu namanya GOBLOK)

Jadi, hari ini saya seperti biasanya bangun disiang hari yang merupakan rutinitas saya sehari-hari, mumpung lagi puasa jadi porsi tidur saya lebih diperpanjang (hitung-hitung menghemat enrgi. Hehehe).

Ok lets start with the story...

Bangun tidur seperti biasanya pukul 01.00 PM, sehabisitu saya langsung menuju kekamar mandi untuk mandi dan bersiap kekampus untuk mempersiapkan penerimaan mahasiswa baru yang kebetulan saya merupakan salah satu panitianya. Sehabis mandi berangkatlah saya menuju kampus, kebetulan mobil pribadi saya telah menunggu diluar jalan (alias Pete-pete). Kejadian yang saya maksud terjadi dalam perjalanan menuju ke kampus.

Jadi saya naik pete-pete untuk pergi ke kampus. Jadi waktu saya menyetop pete-pete,untuk memastikan bahwa saya naik pete yang benar (karena setahu saya pete berkode sama punya 2 jalur BTP-SENTRAL & BTP-DAYA), jadi saya tanya dulu, "kota, daeng?" dan jawabannya biasa sekali, "Ye, Betul naik maki" sambil tersenyum.

Biasa..... Tapi nadanya sangat ramah dan melihat supir-supir pete lainnya pada umumnya, biasanya mereka hanya menganggukkan kepala bahkan tanpa melihat ke orang yang bertanya, senyum pun tidak.

Saya menyadari ada yang "berbeda" dengan supir pete-pete yang ini. Dia menunggu sampe saya benar-benar duduk, baru jalan. Cara menyetirnya juga tidak ugal-ugalan. Suatu hal yang sangat sulit ditemui di Makassar zaman sekarang apalagi melihat tipikal orang Makassar. Kemudian saya duduk tepat dibelakang pak supir yang tengah beraksi menjalankan laju kendaraannya. Di tengah jalan, ada satu hal lagi yang membuat saya kaget. Saat seseorang turun, saya mendengar satu kata yang TIDAKPERNAH sekalipun diucapkan puluhan supir angkot yang telah saya tumpangi."Terima kasih." Ternyata begitu saya turun, dia juga mengucapkan hal yang sama, dan saya bisa melihat senyumnya saat saya menyerahkan tiga lembaran uang bergambar Pattimura yang sudah kusut oleh tangan-tangan pemilik sebelumnya.


Hal ini membuat saya berpikir dan merenung. Supir pete-pete yang sering dicap sebagai manusia yang tak tahu aturan, main serobot sana sini.Nyatanya baru-baru ini, saat saya di undangan buka puasa dan mengantri makanan,saya diserobot oleh manusia berjas hitam berambut klimis yang pasti mengakui bahwa derajat dirinya lebih tinggi dari supir pete-pete tapi berkelakuan seperti anak kecil miskin yang kurang makanan. Supir pete-pete juga sering dikenal sebagai orang tak berpendidikan yang tak tahu sopan santun.


Nyatanya banyak juga teman-teman yang sering lupa atau malah gengsi mengucapkan terimakasih, maaf, tolong, saat mereka harusnya mengucapkannya.

Terima kasih adalah hal yang harusnya sangat biasa.Namun belakangan ini saya sering menemui orang yang tak mengucapkan terima kasih dimana dia seharusnya mengucapkannya. Kesalahan besar !!!!

They have lost my respect....
Tidak peduli mereka seumuran, lebih muda, atau lebihtua. Yang harus direnungkan adalah.........
Are we truly better than they are? Think again.



a game called "LPG's"

Hai semua dari yang tua sampai yg muda,BERGERAK !!!!

Hari ini aku lagi merasa kebanyakan berfikir, jadi dari pada pikirannya sia-sia mungkin baiknya sebagian aku tuang di sini. Tema tulisan saya kali ini adalah : (lagi-lagi) kebijakan pemerintah negara 1. saya tadi sedang maen "role playing game" bernama otak Ritchie melalui kotak hitam diruangan 2X1 M. Game ini berjudul Mafia LPG's, di mana saya memposisikan diri sebagai pemerintah, dan seorang insignificant other sebagai dia.


Tokoh utama dalam permainan itu adalah pemerintah berinisial Jay-K (diperankan o/ Mr.D). Jay-K ini mempunyai seorang asisten berinisial Si BY, yang menjadi teman perjalanannya yang pendiam,padahal menurut cerita, Si BY mrupakan mantan atasan Jay-K. Ceritanya, Jay-K sedang mencari cara yang ampuh untuk membasmi granat masyarakat (konon disebut LPG's)di suatu negara (kita sebut saja negara I).

"I wanna play it dumb"

Jadi yang saya lakukan adalah mengambil keputusan dan kebijakan yang irasional dan tentunya saya tahu akan banyak mengundang protes maupun kontroversi dari berbagai pihak, seperti memblokir akses penjualan ke mucikari-mucikari granat. Asumsikan bahwa saya bukan orang yang mengerti tentang LPG's.Dengan begitu, saya akan terlihat bodoh, dan orang2 pintar dan sok pintar akansegera membuat kebijakan2 atau apapun yang secara blak2an menyatakan apakekurangan dari keputusan dan kebijakan saya. Dan mengenai masalah itu, saya akan meng-employ beberapa intel yang akan melacak keberadaan mucikari2 dan granat tersebut (LPG's).

Tak lama kemudian saya akan menerima hasil tulisan dari berbagai orang yang mengeluhkan, mendukung, mengkritik, meralat keputusan saya tersebut, sampai yg menjadi korban LPG's "granat masa kini". Dengan banyak membaca tulisan2 dan aspirasi rakyat, saya jadi tahu dan paling tidak kenal secara sepintas sub-sub dalam merakit LPG's sekarang, seperti mendeteksi main target khususnya bagi si kantong kering yang ditulis oleh seorang insignificant person dari generasi muda.Selain itu, saya jadi "sadar" akan kesalahan saya , dan akan merevisi keputusan dan kebijakan saya, meminta maaf yang sebesar2nya, dan mengatasi masalah berdasarkan keluhan dan aspirasi rakyat saya, bersama2 dengan intel2 dan tenaga kerja yang bermutu dan jujur akhirnya saya mengerti apa yang harus saya lakukan.

Dengan begitu saya berharap akan memenangkan permainan ini. saya berharap akan mampu menciptakan penjinak LPG's darinegara I. Tapi ternyata perjalanan menuju negara yang benar2 bersih bukanlah perjalanan yang mulus. saya dihadang oleh rintangan yang tak sedikit. Apalagi setelah mengetahui fakta bahwa di negara I, mayoritas dari rakyatnya menentang kebijakan saya. Mereka masih ketagihan dengan keuntungan yg dihasilkan dari LPG's dan belum bisa lepas. Ingin rasanya saya membasmi mereka semua yang nongkrong di gedung kura2 bersama segala nafsunya dengan ledakan granat ganas,berondongan AK47, rentetan dual baller milik Hitman, tembakan headshot menggunakan Sniper Rifle MosinNagant, ataupun dengan cara konvensional : pake bambu runcing. Sayangnya, bambu runcing tdk terdaftar dalam permainan.

tidak cuma itu, ternyata setelah rintangan tersebut selanjutnya akan ada rintangan lagi yg cukup berat dan ini kusebut rintangan alay, yaitu bahwa ternyata teman2 saya (dan kadang2 saya sendiri, kalo lagi butuh) masih suka korupsi apapun yang bisa dikorupsi. Rintangan alay saja sudah merupakan beban bagi saya, apalagi saya juga harus membasmi seorang raja terakhir dalam permainan ini, yang berbadan satu, berkepala tiga, dan berwujud mengerikan. Kepala yang tengah bernama Korupsi, yang kiri bernama Kolusi, dan yang kanan bernama Nepotisme.

Game ini merupakan game yang unik,karena di akhir game, bukan pemeran utama yang menang, tapi musuh utamanya. Dibagian ending, tampak seorang insignificant person berdiri di dekat situ, tak tersentuh oleh monster berkepala tiga tersebut, geleng2 kepala sambil tersenyummisterius ke arah Jay-K yang jatuh ke dalam jurang kegagalan.

Bingung karena ceritanya menggantung?Tenang saja, dilihat dari keadaannya sekarang, tampaknya game ini akan berlanjut dan berganti karakter utamanya seiring waktu, dibuat sekuelnya,mungkin jadi Kebijakan Pemerintah II, Kebijakan Pemerintah III, sampai makhluk three-in-one tersebut mati dan kalah. Tapi yang memproduksi game ini terlalu takut untuk memikirkan kelanjutan game ini, ia takut game ini menjadi terlalu panjang dan tak ada habisnya.

Takut jadi seperti Tersanjung atau pun cinta fitri.

Yang saya lakukan adalah mematikan console imajiner bernama otak Ritchie dan segera kembali ke dunia nyata.

Seorang insignificant person terbangundari imajinasi liarnya. tulisan inipun segera berganti sudut pandang (dari sudut pandang tokoh game aneh itu menjadi sudut pandang seorang penulis yangagak skeptis dan tak kenal takut). Lalu saya berpikir. Apakah orang Indonesia bisa sepintar itu dalam menyusun strategi?

Ah, saya rasa tidak. Semua murni keputusan yang memang terlihat bodoh.
 

Lorem

Ipsum

Dolor