life is a big joke

Jangan biarkan ide muw usang dimakan waktu, tuangkanlah dalam goresan tinta keabadian.....

Nafsu Remaja Dua Puluh

Kamis, 01 Agustus 2013

Aku mencintai kamu yang dulu
Dulu saat bersamamu
Ada kisah yang tertempuh
Berbagi dalam jarak dan waktu

Mimpi-mimpi yang terbelenggu
Bak air dalam sebuah tungku
Aku dan kau adalah sebuah nafsu
Nafsu remaja dua puluh

Kini semua telah berlalu
Hilang tanpa bersamaku
Dalam deru yang mendebu
Aku mencintai kamu yang dulu
18 Mei 2013
Pagi, Senyum yang terjatuh

Lebensraum



*Ide tulisan ini hadir pada saat hendak menikmati santap malam

Belakangan ini pola hidupku agak sedikit berubah. Hal ini seiring sejalan dengan rutinitas yang kujalani. Saya merupakan salah satu mahasiswa program pascasarjana disalah satu universitas yang menurut kebanyakan orang merupakan universitas terbaik di Indonesia.
Seperti hari biasanya, menurutku tak ada suatu yang istimewa. Panas terik dan deru kendaraan seakan memaksakan langkahku untuk tetap berada dikamar.  Tak terasa hari berganti siang dan kini matahari pun tak lagi bertuan, perlahan-lahan ia menghilangkan sinarnya. kulihat jam yang melekat ditanganku menunjukkan pukul delapan malam kurang seperempat. Seperti kebanyakan khalayak, waktu seperti itu merupakan waktu yang pas untuk bersantap malam dan sambil menyelesaikan tugas paperku akhirnya aku memutuskan untuk sejenak mencari makan disekitar tempat tinggalku.
Malam itu aku memutuskan untuk bersantap malam di warteg, warung seadanya, Seada duit dan seada kenyang. Awalnya semua biasa saja, aku menikmati makanan dihadapanku dengan lahap sampai suatu ketika mataku tertuju pada seorang ibu yang duduk didepan warung makan dengan dua anak didekatnya. Dalam pandanganku umur ibu itu berkisar 40-an yang mendekati 50. Perawakannya agak kurus dengan sebuah kain menutupi kepalanya dan tingginya mungkin tak bakal melebihi seratus enam puluh centimeter. Postur yang kecil menurutku.
Ibu tersebut tidak sendirian, terdapat dua anak kecil yang berada didekatnya. Satu hal yang kuyakini bahwa salah satu anak ibu tersebut berkelamin perempuan dan berumur tak kurang dari lima tahun. Aku tak tahu jenis kelamin anak yang satu lagi, bukan tanpa alasan. Anak tersebut masih berusia sekitar tiga tahun, menurutku, dan tertidur pulas didekapan ibu itu dengan seutas kain yang menggendong dirinya dalam lilitan ibu tersebut.
Aku berani memastikan bahwa mereka berada dalam kondisi kelaparan. bagaimana tidak, panas terik disiang hari terbayar tuntas dengan guyuran hujan rintih-rintih dimalam harinya.
Lama aku memandangi mereka, sampai-sampai makanan dihadapanku pun menjadi dingin. Aku melihat ibu tersebut sedang menikmati nasi bungkus yang ia keluarkan dari dalam tasnya. Terdapat tiga bungkus nasi; untuknya, anak perempuannya dan anak balitanya. Mereka memakannya sangat dan sangat lahap sampai kemudian anak perempuannya menyahut “Bu, aku masih lapar”. Sejenak air dimataku rontok perlahan-lahan.
Inilah mereka yang terdustakan oleh kehidupan
Dengan sigapnya ibu tersebut menyodorkan makanan yang dilahapnya
“ini kamu bagi berdua dengan adikmu, Ibu sudah kenyang”
Nikmat tuhan apalagi yang hendak mereka dustakan
Dan tanganku pun mengambil selembar tisu…

Tuan, dunia apalagi yang hendak kau ciptakan ? dengan segala kekayaan yang kau miliki, mengapa hal ini bisa terjadi ?
Ataukah, Tuhan, bantu aku menjawabnya ? selemah-lemahnya aku, ialah pada saat aku hanya tinggal diam.

∞∞∞∞∞¦¦¦∞∞∞∞∞
*Beberapa saat sebelumnya

Belakangan ini merupakan hari-hari terberat bagiku. Deretan paper yang menumpuk serta tumpukan laporan yang terkejar deadline. Aku sangat senang mempelajari, mengulas ataupun menulis hal-hal yang terkait dengan keamanan, beberapa waktu lalu salah satu pengajar dikampusku, Edy Prasetyono, memberikan sedikit penjelasan mengenai konsep-konsep keamanan.
Secara garis besar ia membagi keamanan kedalam dua term, traditional dan non-traditional. Traditional merupakan term keamanan klasik yang menitikberatkan konsep keamanan pada isu-isu militer saja, sedangkan non-traditional merupakan konsep keamanan yang “terperbaharui”, hal ini merujuk bahwa konsep keamanan tidak hanya fokus pada isu militer saja melainkan isu-isu ekonomi, hukum, bencana alam, terorisme, korupsi, less government dan sebagainya merupakan kajian keamanan non-tradisional yang secara tidak langsung dapat berdampak signifikan terhadap eksistensi suatu negara. Menurut R. William Liddle terdapat dua unsur fisik mendasar dalam membangun kekuatan bangsa yaitu faktor ekonomi dan militer disamping juga critical mass.[1]
Pada waktu itu, kami memfokuskan arah diskusi tersebut keaspek hukum dan ekonomi, khususnya terkait korupsi. Wajar saja ini menjadi diskusi hangat kami, mengingat permasalahan ini tak kunjung terselesaikan di bumi pertiwi ini. jika kita hendak menulusuri praktek-praktek korupsi dinegeri ini tentu tidak akan sukar untuk menarik sebuah benang merah. Hal tersebut saya asumsikan mengingat bahwa korupsi merupakan tonggak sejarah yang melatarbelakangi lahirnya bumi pertiwi. Dari zaman majapahit, zaman kolonial dimana gubermen-gubermen menjadi tokoh utama hingga sekarang dimana korupsi tidak lagi menjadi sebuah barang mewah. Siapa saja dapat melakukannya tanpa perlu menjadi pemimpin ataupun gubermen.
Melihat kondisi hari ini, bumi pertiwi lagi-lagi dihebohkan dengan fenomena korupsi yang dilakukan oleh salah satu petinggi POLISI dengan nilai korupsi hingga ratusan milyar rupiah. Sambil bercanda dosen saya kemudian mengeluarkan anekdot bahwa
 “koruptor di Indonesia itu bodohnya tidak ketulungan, pantas saja kalian tertangkap”
Bodoh dan tertangkap kemudian dirasionalkan melalui mekanisme berikut: pada dasarnya manusia/keluarga hanya membutuhkan satu rumah dan mentok-mentok dua, mobil pun demikian. Karena jika berlebihan hasilnya akan mubasir.  Apakah rumah-rumah dan mobil-mobil hasil korupsi tersebut akan kalian tempati dan pergunakan keseluruhannya ?
Uang ratusan milyar berdasarkan asas guna apakah akan dipergunakan keseluruhannya ? kalau hanya ingin menghidupi anak istri tentu tak bakal sampai ratusan milyar, anak pun kalau dewasa pasti akan menjalani kehidupannya sendiri.
∞∞∞¦ ¦∞∞∞

Sejenak aku kembali memperhatikan makananku, aku seolah telah kehilangan hasrat untuk melahapnya. Aku kacau untuk beberapa saat, aku teringat oleh sebuah buku yang baru saja aku baca “Hungry For Peace: How you can help end poverty and war with Food Not Bombs”. Sebuah buku yang hadir dari kampanye gerakan Food Not Bomb oleh Keith McHenry. Kampanye ini memprotes penyerapan anggaran belanja militer yang cukup besar dengan membagi-bagikan makanan vegetarian gratis untuk orang-orang miskin dan siapapun yang tidak mampu membeli makanan.
Karena makanan adalah hak semua orang bukan hak istimewa
Karena ada cukup makanan untuk semua orang untuk dimakan
Karena kekurangan bahan makanan pokok adalah bohong
Karena seorang perempuan tidak seharusnya menggunakan badannya hanya untuk mendapatkan makanan atau tempat tiur
Karena ketika kita lapar  dan kedinginan kita mempunyai hak untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan dengan cara meminta, mengamen atau menempati bangunan kosong
Karena kemiskinan merupakan bagian dari kekerasan, bukan kebutuhan atau suatu yang alami
Karena makanan tumbuh pada tanaman
Karena kita butuh rumah bukan penjara
Karena kita butuh Food not Bombs (Keith McHenry:2012)
Tak terasa makanan dipiringku telah habis kulahap, aku pun bergegas ke kekasir untuk membayar dan memesan dua bungkus nasi yang lalu kuberikan pada ibu tadi. “ini bu, dua bungkus nasi yang mungkin dapat mengganjal perut hingga esok pagi” tukasku sambil berjalan pulang kekostan.


12 Mei 2013
Ekspansi kapitalisme tidak hanya mengubah
hubungan antar manusia, tetapi juga hubungan
 antar manusia dengan lingkungannya




[1] William, Liddle, “Intervensi SBY”, Tempo, Edisi XXVII, 3 Desember 2006

I am not I once was

Selasa, 16 April 2013

Kehidupan merupakan lawan tangguh bagiku dan Tuhan mengajari aku mengenal hidup sebagaimana orang-orang lain mengartikannya. Hatiku kuncup sebesar gunung, Benci tak kurang cela, Suka tak kurang puji.
Malam ini kurebahkan tubuhku pada tumpukan kasur bahwa hidup sendiri menjadi sia-sia bila dikuasai ketakutan.

Dunia & Hati Damai Bersalaman
17 Mei 2013

Sejenak

Malam hari 09 februari 2013 tepat dipukul 21.00, aku malu pada diriku sendiri. Aku telah kehilangan semangatku, semangat untuk menulis. Hampir sudah setenga jam aku menatap kertas putih dihadapanku, tak ada satu pun yang berhasil aku coretkan. Hey dir ada apa gerangan ? kau terlalu sibuk mencari alasan untuk tak menulis. Telah puluhan karya prematurmu yang lahir di secarik kertas, tapi kau juga tak menuntaskannya. Percayalah, perlahan tapi pasti mereka akan bergegas meninggalkanmu dan kau tak akan mampu mengenang dirimu sendiri. Inilah kau sekarang dir, manusia yang hanya berbalut daging tanpa satu pun karya yang kau hasilkan. Kau tertinggal jauh dari kehidupan dir ! apa yang dapat kau berikan pada waktu yang semakin berlalu ?
Lihat ! kau termenung, sembari memikirkan apa yang hendak kau tulis, kau kaku !
Menulislah dir, menulislah!! Kejar semua ketertinggalanmu, kelak ini semua akan menjadi saksi bahwa kau benar-benar pernah hadir sebagai mahkluk hidup. Kini kau rasai dirimu begitu kecil tanpa arti, seorang yang pernah melawan, terluka dan kalah. Bicaralah, kau dir ! mengapa kau diam saja ? kini kau telah menjadi tawanan gemerlap kata.

Surat Yang Tak Sempat Terkirim

Senin, 08 April 2013

Hey Kamu, Bolehkah saya menyapamu seperti itu ?

Selamat Siang, Sore ataupun Malam
Bagaimana pun kabarmu dihari yang cerah ini, semoga kamu sedang ditemani secangkir susu dan segala aktivitasmu. Disini, Aku sangat Bergembira.

Boleh kah aku bertanya, Bagaimana rasanya membaca surat ini ?
semoga pertanyaan ini tidak terlalu keterlaluan. Dan sepertinya ini pertanyaan yang biasa saja. Jangan terlalu menganggap ini serius toh ini hanya sekedar surat. Surat yang bahkan tidak perlurepot-repot untuk dibalas. Lagipula aku tidak mengamini sebuah pantun lama ini "empat kali empat sama dengan enam belas, sempat tidak sempat harus dibalas".

Oh ia sebelumnya, Selamat Ulang Tahun Kelak
Ini adalah surat yang sedikit prematur, meski begitu aku tetap ingin mengucapkannya "Selamat Ulang Tahun, sekali lagi", semoga keprematuran ini akan menjadi sesuatu yang kau ingat.

Sebenarnya aku ingin menyuratimu dengan pena dan kertas. lalu gulungannya kuselipkan di kaki merpati hingga sampai di depan jendela tempat kau membaca surat ini. Atau dibawah pohon, saat kau duduk dengan handphone digenggaman kananmu dan amplop surat cinta dari orang lain di tangan kirimu. Tapi aku mau cepat, secepat mungkin. Kalau bisa sebelum Handphone mu berdering lalu kau membuka amplop surat cinta itu. 

Suatu hari pada sebuah malam yang ramai dan lalu lalang kendaraan banyak berseliweran dihadapan kita. Tak ada percakapan walaupun berhadapan. Tak ada obrolan walaupun berada bersisian, maka maafkan saja jika surat ini kemudian menjadi asal-asalan. Asal sampai ketempatmu, Asal terkumpul kata-kata yang sekedar cukup indah pun tidak, karena kalau keberikan lembaran kosong aku akan membuatmu kesulitan menebak.

Hey kamu sebenarnya saya ingin membisikkanmu sebuah cerita. Jangan beritahu siapa-siapa yah, JANJI ?

Begini, seperti Tumbra yangsuka berbicara dengan pohon, saya pun suka berbicara dengan pohon. Oke mungkin saya sebut saja tanaman karena masih terlalu kecil. serius ini serius. Kamu jangan tersenyum apalagi bingung.

Jadi, setiap pagi sebelum memulai aktivitas, tanaman tersebut saya ajak ngobrol, kadang saya beri air jika mereka sedang dehidrasi. Oh, dan setelah itu saya senyum-senyum sambil dadah-dadah melambaikan tangan ke mereka. Selintas kadang saya melihat mereka pun melambaikan tangan, maksud saya dedaunan. Kadang pula saya merasa mereka mentertawakan saya dari belakang, mungkin mereka menganggap saya gila. tapi saya tidak peduli, saya tetap pergi menutup pintu dan meninggalkan mereka dalam kesunyian. Aku selalu yakin bahwa tanaman-tanaman tersebut tidak betul-betul sendiri, selalu saja ada angin bahkan cahaya yang menemani. Hal itu membuat harapan tanaman itu terus hidup. Namun lamaberselang tanpa kehadiranku memberikan air disaat mereka dehidrasi, dedaunan tanaman tersebut berguguran satu per satu. Awalnya daun-daun tersebut berubah menjadi cokelat dan tetap menempel pada rantingnya. Namun membuat mereka lama menunggu akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dan gugur dalam pelukan tanah.
Dan ketika senja menjelang, aku pun pulang dan berharap dapat menemui dedaunan itu lagi, tapi ternyata mereka telah pergi menentukan jalannya dan enggan menunggu keterlambatanku. Dan aku hanya bisa diam menatapi tanaman tersebut. Sesuatu yang diawali dengan senyuman pun harus diakhir dengan tatapan kosong. Sekian

Oh ia, sebelum ku semakin terlambat, Ini ada sebuah sajak untukmu.Sengaja aku tak menuliskan tanggal dan usia ulang tahunmu. Hal ini semata-mata agar kelak kau dapat membaca sajak ini berulang-ulang pada saat hari yang mengulang tahunmu.

Sajak Dihari Ulang Tahun

Seorang Wanita yang beruntung lahir dari rahim ibunya
Kau mungkin seorang bayi yang lebih lambat lahir dariku
Maka aku sajikan satu buah sajak
Agar sampailah ketika nanti di hari ulang tahunmu
Aku bisa bertemu dengan seorang wanita yang beruntung
Karena pernah menghuni rahim ibunya
Meskipun hanya lewat sajak ini

Salam,
Demikian satu sajak yang tiba-tiba kutulis bersamaan dengan surat ini


09 April
Ditemani tumpukan paper yang menggila

Sorry, I am getting older

Minggu, 21 Oktober 2012

#SuratuntukbapakIII

Teruntuk dia yang tlah hadir dalam hidupku, dia yang memberikanku kehidupan dan padanya yang telah mewariskanku wataknya. Apa kabar, pak ? Apa kau sudah baikan ? ini merupakan kali ketiga aku menuliskan surat buatmu, namun kau tak kunjung membalasnya. Bahkan membacanya pun sudah enggan!!!
Apa kau masih marah padaku ? hanya karena mendapatiku merokok disudut rumah kini kau tak sekalipun memalingkan wajahmu padaku.
Pak, aku masih ingat sewaktu aku kecil dulu. Kau sering memarahiku, membatasi ruang gerakku dan bahkan kau sering memarahiku mana kala ini itu tak sesuai dengan jalan pikiranmu. Pak, aku memang mewarisi watakmu yang keras, tak sekalipun aku menuruti nasihatmu. Aku membangkang dengan segala alasan yang aku miliki. 
Masih teringat jelas ketika kau melarangku untuk bermain hujan, manakala anak-anak seusia menikmati bahagianya bermain hujan, aku hanya mampu berdiri kaku didepan pagar rumah yang kau buat kokoh itu. Aku tahu kau mencemaskan kesehatanku kelak, tapi aku ingin bermain, pak!! Berkumpul dan tertawa dengan rekan sebayaku. Semua mainan plastik yang kau berikan padaku, itu tak berarti. Semua itu bak semua gunung yang menumpuk dikamarku. Aku bukan kucing peliharaan yang akan selalu bersama tuannya dan termenung dikandang menikmati “kebahagiaan” yang diberikan tuannya.
Aku anakmu, pak!! Anak yang berusia minim. Aku tak ingin menghabiskan masa kecilku dihadapan layer TV. Lihat ketika aku bermain hujan, disana aku tertawa, terjatuh bersama teman-temanku. Meskipun pakaianku kerap kotor karena percikan lumpur dilapangan sepak bola, tapi aku bahagia pak bisa berbagi dengan mereka. Aroma hujan itu!! Kau pasti juga pernah merasakannya.
Pak, ingatkah kau ketika aku terbaring lemah dihadapanmu ? kau menangis pak!! Ia menangis !! kau cengeng!! Jangan salahkan aku ketika menyirammu dengan air minumanku, aku benci tangisan pak!!

Pak, aku berlari dibawah terik, hujan ataupun malam. Aku bermain!!
Layangan, aku sangat menikmatiknya disiang hari dan manakala hujan, bermain sepakbola adalah kegemaranku. Masih ingatkah kau dengan hadiah sepeda yang kau berikan padaku ? aku menggunakannya pak.
Jangan pernah salahkan aku pak, karena aku juga tak pernah menyalahkanmu sekalipun. Kau sering meninggalkanku seharian dirumah tapi aku tak pernah mengeluh, aku sepi pak!! Ku tahu kau sedang mencarikan nafkah buatku, aku tak pernah mengeluh!!
Disaat usiaku kian bertambah dan kesehatanmu kian menurun , tak sekalipun kau memarahiku. Kau sudah enggan!!
Pak, aku masih anakmu. Umur ini hanya merupakan hukuman yang alam berikan karena hidup didalamnya. Apakah cintamu kian luntur dengan bertambahnya usisaku ?
Pak, aku rindu dengan segala bentuk kemarahanmu. Maafkan aku yang sedari dini sering membuatmu marah yang membuatmu semakin menunjukkan kejantananmu dihadapanku.
Pak, masih banyak tentang kau yang hidup dibenakku. Mencuri uangmu disaat kau sedang tertidur, menyembunyikan sendalmu agar kau tak keluar meninggalkanku sendirian, atau bahkan kebersamaan kita disaat iseng memasang judi togel yang membuat ibu memarahaimu habis-habisan.
Pak, bekas luka dikakiku akibat pukulan lidimu semakin mengingatkanku bahwa kau sangat mencintaiku. Pak, sekarang aku tlah dewasa. Aku ingin melanjutkan cita-citamu yang sempat kau bisikkan disaat aku terbaring lemah dulu. Meskipun kini aku tak tahu keberadaanmu, tapi aku tahu kau sedang mengintip membaca tulisan ini dibelakangku disaat aku sedang menulis surat ini. Pak, aku masih ingat kau pernah berjanji akan menemaniku kelak jika aku sudah dewasa untuk minum kopi diwarung pojok dekat rumah. Tapi, kedewasaanku justru membuatmu pergi meninggalkanku.

Jakarta, 21 Oktober 2012
Sebulan sebelum kelahiranku. Aku Benci Tangisan, Pak !!!
#np The Script-If You Could See Me Now


Surat Kecil Untuk Tuan

Senin, 30 Juli 2012


Ketika kebijakan bersumber dari kepentingan pribadi, akan dibawah kemana kami ?
Hari ini suasana jalan dikota tempatku bermukim sama seperti biasanya, padat, pengap dan rentetan suara klakson kendaraan bermotor silih berganti. Pagi itu suasana cukup bersahabat, matahari lagi semangat-semangatnya memancarkan sinarnya untuk mengalahkan semangat manusia yang hendak beraktivitas. Perlahan ku langkahkan kakiku menuju pagar rumah, ada segenap aktivitas pagi yg ingin ku realisasikan.
Hari itu aku telah berjanji akan mengunjungi temanku, rumahnya disekitaran salemba. Berbekal janji itu lah aku mantap melangkah…
Seperti biasanya, hal-hal yang berarti kadang terjadi diwaktu yg tak terjamahkan oleh pikiran…
Busway, kendaraan umum inilah yg cukup akrab bagi orang sepertiku dan khalayak. Menuju arah senen merupakan tujuan pertamaku. Berdesak-desakan menunggu kedatangan busway merupakan suatu hal yg lumrah, selain itu kondisi jalan yang padat bak sepasang daun dan pohonnya, yang akan terasa aneh jika tak beriringan. Matahari pun mantap menyinarinya. Namun dengan hadirnya pendingin ruangan di kendaraan tersebut membuatku sejenak mengabaikannya.
Setiba dihalte senen, aku pikiranku sempat berkecamuk. Apakah aku melanjutkan perjalanan kerumah temanku dengan menyambung busway lagi dihalte sebelah, ataukah melanjutkannya dengan kendaraan umum yang lainnya, sebut saja bajaj atau mikrolet. Akhirnya langkah ku pun mantap memilih mikrolet. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan, alasan pertama dan utama yakni aku teringat perkataan teman ku, namanya gilang namun kadang disebut ramos “raul lemos”, “terkadang dengan menggunakan kendaraan umum kita dapat menemukan jawaban atas permasalahan atau beban pikiran kita”. Menurutku hal ini cukup masuk akal, ketimbang menggunakan pribadi namun pikiran kita fokus pada jalanan, akan jauh lebih baik jika pikiran kita dipergunakan untuk yang lainnya. Alasan kedua, tentunya lebih efektif. Ketimbang harus mengantri lagi dan menunggu kedatangan busway.
Dengan bantuan lampu merah, aku pun mantap menyeberangi jalan. Sekedar informasi saja kendaraan disini begitu liar, hanya lampu merah, macet dan kecelakaan saja yang bisa menghentikannya. Hari itu aku menggunakan mikrolet dengan nomor ??? (lupa kodenya), ketika aku naik tampak sudah ada beberapa orang didalam mikrolet tersebut. Dua diantaranya merupakan wanita yang umurnya sudah mulai uzur. Ku putuskan untuk duduk dibangku paling belakang, pertimbangannya karena aku ingin dekat jendela dan duduk disamping ibu-ibu tentunya bisa jauh lebih aman dari penodongan.
Pada saat-saat dimikrolet inilah kemudian aku mendapatkan sebuah pengalaman, kisah yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Waktu itu (yang masih teringat), telepon seluler dari salah satu wanita yang saya maksud diatas bordering, wanita tersebut mengangkatnya dan kemudian berbicara tidak begitu lama lalu memberikannya ke wanita yang satunya. Dari dialegnya, aku yakin dia bukan penduduk asli disini (jawa), dalam hematku dia pasti tidak jauh-jauh dari aku (kampung halamanku, Sulawesi). Ia berbicara begitu cempreng dan menggunakan bahasa daerahnya. Yang aku dapatkan dari pembicaraan ia sedang marah, marah akan kondisi, nasib dan tuannya.
Berdasarkan percakapan yang kudengar, semua berasal dari seorang anak. Mungkin anaknya, keponakannya ataupun keluarganya. Nama anak itu silfa,sifa atau ifa (saya tidak mengingat pastinya). Saya memastikan kalau anak itu sekarang masih duduk dibangku sekolah menengah (SMA), kesimpulan ini kudapat karena dalam percakapan tersebut anak itu hendak melanjutkan sekolahnya keperguruan tinggi.

Dalam percakapan tersebut, sang anak mengutarakan keinginan, harapan atau cita-citanya kesalah satu keluarganya yang kemudian keluarganya tersebut meneruskannya ke wanita yang ditelepon tadi. Ia (anak itu) mengatakan bahwasanya ia berkeinginan untuk melanjutkan sekolahnya dibidang kedokteran (cita-cita pasaran untuk anak Indonesia), namun hal ini kemudian ditanggapi negatif oleh wanita tersebut.
“kalau bermimpi jangan tinggi-tinggi dan sadar diri. Kita ini bukan siapa-siapa, bahkan sampai kau menjual seluruh harta benda orang tuamu belum tentu kau bisa masuk jurusan kedokteran”, ujar sang wanita
“kalau begitu dokter gigi saja, kata anak tersebut” yang kemudian disampaikan oleh sang penelpon (saya tidak mengetahui jenis kelamin si penelpon)
“dokter gigi sama saja, sama-sama ada dokter didepannya” celetuk sang wanita itu
“yah kalo begitu jurusan apa saja, yang penting berhubungan dengan kesehatan ” sambung si penelpon menyampaikan keluhan anak tersebut
“ yah sudah masukkan saja dia disekolah kesehatan, tidak usah dimasukkan keuniversitas. Dapat uang dari mana. Sekarang pintar mahal, bisa sekolah sampai SMA saja itu sudah syukur” jawab si wanita
“ie ie” jawab si penelpon
Kemudian telepon pun berakhir (percakapan menggunakan bahasa bugis dan telepon ibu tersebut kayaknya diloudspeaker karena terdengar nyaring ditelingaku).

Pasca mendengar percakapan telepon tersebut aku sempat berpikir dan tanpa sadar gank rumah temanku sudah lewat. Aku pun turun dari mikrolet dan menyebrang jalan sambil berfikir keras apa yag baru saja ku dengar.
Pintar untuk si kaya, bodoh untuk si miskin. Apakah kondisi kemiskinan merupakan faktor utama penghalang orang untuk mencapai harapannya ? atau hanya anak tersebut saja yang malas dan menjadikan kemiskinan sebagai kambing hitam ? aku kacau dalam beberapa saat. Semua buku yang pernah ku baca dan pengalaman yg pernah ku dapat, ku bongkar satu persatu dalam pikiranku. Aku hendak mencari jawabannya.
Kapitalisasi pendidikan, arogansi pendidikan, pendidikan pilih kasih, kebobrokan system dan manusianya, omong kosong para orator politik dan lain sebagainya berkecamuk dipikiranku. Aku kacau, sebagai orang yang berpendidikan aku tak tahu harus menjawab apa. Aku tak punya kuasa dan materi untuk menjawabnya. Sebagai orang berpendidikan harusnya aku bisa menjawab percakapan tadi tak mungkin mencari-cari dan melempar kesalahan.
Aku kacau !
Pesanku bagi teman-teman yang membaca ini, tolong sampaikan ini kepihak yg mempunyai wewenang untuk menjawabnya atau pihak yang bisa menyelesaikannya. Entah itu birokrasi yang berpakaian rapi, dosen yang lebih senang mengerjakan proyek ketimbang mengajar, rektor yang senang keluar kota maupun negeri serta katanya menghadiri pertemuan studi banding, atau konglomerat bermuka baik berhati jahat. Oh ia satu lagi, mahasiswa yg berpaham “kecualisme”, mahasiswa yg jika sesuatu hal yg bersebrangan dengan pikiran dan nafsunya maka itu adalah sebuah kesalahan dan harus dilawan tapi jika sesuatu hal tersebut memiliki kepentingan dan pengaruh bagi dirinya meskipun hal tersebut SALAH SAMA SEKALI maka itu adalah sebuah PENGECUALIAN titik
Mungkin tepat juga semoboyan dinegeri ini, "pemuda adalah harapan bangsa". pemuda yang orang tuanya memiliki pengaruh dan harta yang berlimpah.

"Semoga hari dimana orang-orang saling mengerti akan tiba"

Maret 2012
Aku kacau !

Sakit, Yang abadi....

Minggu, 15 Juli 2012

Akhir-akhir ini seperti ada sesuatu yang aneh menurutku, khususnya mengenai kematian dan tobat. Yah semua berawal dari beberapa pekan yg lalu. Pasca kecelakaan yang menimpaku. Tepatnya diawal bulan juni lalu, saya mengalami kecelakaan motor yang mengakibatkan sekujur tubuhku terluka, mulai dari kepala, tangan dan kaki, hingga beberapa luka memar ditubuhku. Kecelakaan tersebut bahkan membuatku harus dirawat inap disalah satu rumah sakit karena tak sadarkan diri. Walaupun kini semuanya telah membaik, tapi yang membekas dikepalaku hingga kini yakni perkataan dokter itu “kamu mengalami geger otak ringan”. Sontak sekujur tubuhku merasa lemas, seakan tak mempercayai perkataan tersebut, terlebih lagi ketika kecelakaan tersebut tak seorang pun anggota keluarga yang menemaniku (karena saya sedang berada jauh disana), rasa sakit yang kualami semakin bertambah, batin dan fisik. Terkadang aku ingin mengaduh kesakitan tapi yang ada hanya sebuah pulpen dan secarik kertas yang menemani. Meskipun ada seorang teman (teman kost), tapi itu tidak cukup membantu. Ia hanya datang menemani ketika malam tiba, berhubung ia juga memiliki aktivitas keseharian, but actually it doesn’t matter.
Pasca kecelakaan tersebut, yang terpikir olehku ialah kematian. Bagaimana tidak, beberapa bulan yang lalu salah seorang teman lama ku berpulang kerahmatullah. Beberapa jam pasca operasi (terdapat luka dalam,darah, dikepalanya) ia menghembuskan nafas terakhirnya. Hal ini terus membayangiku, beruntung kecelakaan tersebut tidak mengakibatkan luka dalam di bagian kepalaku.
Layaknya orang yan takut mati, aku pun berdoa agar diberi umur panjang. Mungkin ini bisa disebut sebagai sebuah kemunafikan. Hanya pada saat-saat terpojok saja baru aku memohon, berdoa bahkan melaksanakan perintahnya ( mungkin bisa disebut Tobat). Shalat lima waktu yang dulunya sering bolong, kini penuh melompong aku jalani. Berinfaq, aku pun semakin sering melakukannya.
Jauh hari kemudian, tepatnya malam 14 juli 2012. Aku menonton sebuah film yang berjudul “Afterlife”, sebuah film yang mengisahkan sepasang mahluk tuhan yang dimabuk cinta. Namun  sang wanita enggan mengutarakan perasaannya karena trauma yang disebut “trust”. Sampai suatu ketika sang wanita mengalami kecelakaan hebat yang menyebabkan kematian (kalau tidak salah si wanita bernama tayloor/anna). Ia begitu menyesal dan penasaran karena tak dapat mengutarakan isi hatinya kepada sang lelaki. Disebuah rumah (yang mengurusi mayat sebelum dikebumikan), ia menceritakan rasa penasarannya tersebut kepada sang pengurus mayat. Agak aneh menurutku, karena sang pengurus mayat memiliki kemampuan untuk berbicara dengan mayat [seperti nabi daud, yunus, isa (lupa persisnya)].
Aku masih ragu apakah sang perempuan tersebut memang telah mati sebelum dibawa kebagian pengurusan mayat atau sang pengurus mayat lah yang menguburnya secara hidup-hidup dengan menyuntikkan suatu cairan (saya hanya menontonnya separuh).
Keanehan, kebetulan atau apalah kian berlanjut. Ketika aku membuka suatu situs jaringan sosial, fb, terdapat temanku yang sedang membicarakan “neraka”. Mereka ialah Ana, Tiana dan Bunga (tolong sampaikan ke mereka kalau diskusi mereka ada dalam bagian tulisan ini, maaf tanpa memberi tahu terlebih dahulu).
Berawal dari status ana “Berhentilah merokok! Kata mamaku, surga tidak menyediakan api untuk para perokok.”
Yang kemudian direspon oleh tiana dan bunga dengan diskusi hangat nan ngawur
  • Tyan Tyana Untung sy tidak merokok
  • Harpiana Rahman Makanya, sy juga cari calon suami yang tidak merokok. Spya dia tdk perlu ke neraka     untuk cari api.
  • Tyan Tyana Harusnya ada yg tersinggung sm komen mu td haha
  • BuNga Noor Hidayah na bilang karni ilyas,,klu perokok itu nd masuk surga,,dia lebih memilih u/ tdak masuk surga....wkwkwkwkwkwkwk
  • Tyan Tyana Kasian tawwa kl mo skli merokok, ndada api d surga.
  • BuNga Noor Hidayah aiiihh,brarti jelek ji surga cz ada ji yg nd ada....hahahahaa...
  • Harpiana Rahman Iy..apiji yg tdk sediakan d sana..jd mw merokok,silahkan ke neraka,.apinya disana bakal bisa dipake membakar rokok.wkwk
  • Harpiana Rahman Eits,jgn salah..surga adalah kawasan bebas asap rokok.
  • BuNga Noor Hidayah ahh,,pzti surga jga nnti ada ji smooking roomx tawwa...kan na bilang guru agama,smua mi ada d surga,,bisaki minta apa saja nnti d surga..
  • Tyan Tyana Ini ngomong apesih. Kyk tong bs masuk surga. Wkwk

Selang keesokan harinya, ketika saya hendak mencari makan keanehan atau apalah pun berlanjut. Terjadi sebuah kecelakaan di flyover (jalan layang), dimana pengendara tersebut meninggal akibat kecelakaan dan jatuh dari fly over.
Waw it sounds great, jika diskemakan kecelakaan-imajinasi-film-diskusi-dan pada akhirnya kematian. Hmm tanpa bermaksud melebihk-lebihkan it is like a final destination film.
Lanjut, berdasarkan dari pengalam hidup saya dan pelajaran agama yang saya dapatkan, dikatakan bahwa tak ada satupun didunia ini yang abadi kecuali Allah SWT. tapi dalam hematku itu terdapat kekeliruan, karena menurutku RASA SAKIT akan kekal menemanimu sepanjang hidupmu. Entah itu sakit secara fisik maupun batiniah (silahkan mereview pelajaran agama masing-masing). meskipun kini keadaan ku sudah baikan.

So, belajarlah mengenal rasa sakit, bersahabat dengannya. Karena ia yang akan sebetul-betulnya menjadi teman sejatimu. Bahkan ia yang akan menentukan hidupmu kelak....
(pengalaman rasa sakit [jgn dipahami secara sempit] ).

15 july 2012
Dengan lantunan The Paps- Life is a big joke

Pagi yang mendung

Kamis, 12 Juli 2012


Malam ini seperti sebuah pagi yang mendung, segera kulangkahkan kakiku menuju rumah. Diatas angkutan umum kota, hujan deras tampak membasahi jalanan kota yang begitu pengap, tak lupa kepulan asap dari keringat buruh kuhempaskan. Aku berpikir keras, aku belum bisa menjamin apakah keadaan ku akan baik-baik saja setelah malam ini. Entah mengapa, aku merasa akan ada banyak hal buruk semenjak malam ini. Seperti sebuah siklus kutukan. Badai pasti akan reda, tapi pasti akan ada badai lagi.

Telepon dalam tas ku berdering kembali, tapi dari nomor yang berbeda. Aku ragu, aku mau menerimanya, tapi tiba-tiba terlintas pikiran, kalau kamu tidak menerima telepon itu, yang menelpon barusan akan menghubungimu kembali, Terima saja !. Aku segera menerima telepon itu, tapi lagi-lagi, telepon itu mati. Tak ada sedikit suara pun diseberang. Itulah takdir bagi para peragu, tidak bisa mengambil tindakan tepat.

Yah, menurutku apa yang kamu makan akan berpengaruh besar dengan apa yang kamu pikir dan akan berpengaruh besar terhadap keseluruhan hal yang kamu kerjakan. Sebut saja namaku anton, usiaku kini menginjak seperempat abad. Teman-teman sering memanggilku kedar, kekar dada rata, namun dalam mitologi bangsa yahudi, kerda merupakan suatu bangsa yang terletak dibagian paling timur dunia yang menjadi penghalang masuknya “tuhan” bangsa yahudi. Didaerah tersebut merupakan daerah yang memiliki kekayaan berlimpah sekaligus pintu masuk yang dimukimi bangsa yahudi. Namun, hal ini berubah ketika bangsa kedar menjajah bangsa yahudi yang tinggal didaerah tersebut.

Kembali ke laptop…

Sewaktu SMA, aku bersekolah disalah satu sekolah terbaik dikampungku, bandung. Disana aku mempunyai sahabat yang bernama ajeng, nama yang khas untuk orang yang berasal dari pulau tersebut. Kami berdua merupakan siswa teladan dan telah mendapatkan begitu banyak prestasi. Mulai dari olimpiade (kimia) tingkat daerah sampai ke tingkat nasional. Ketika olimpiade nasional, aku menduduki peringkat kedua dan teman ku lah yang menjadi jawaranya. Kami begitu bangga membawa pulang piala tersebut kesekolah kami. Selang waktu berlangsung, temanku kemudian melanjutkan kuliahnya ke eropa, beasiswa dari pemerintah setempat, sedangkan aku lebih memilih melanjutkan kuliah ku di universitas gajah mada jurusan kimia. Pertimbangan dekat dengan keluarga merupakan alasan utamanya.

empat tahun berselang aku pun menyelesaikan kuliahku dan langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan asing yang beroperasi dinegaraku. Penghasilanku cukup lumayan, setidaknya setiap bulan ada yang tersimpan dalam tabunganku. Bahkan aku mendapatkan fasilitas rumah dan kendaraan pribadi. Karirku menanjak drastis, empat tahun setelah aku bekerja, aku kemudian dipercayakan menjadi sebagai kepala manajer diperusahaan tersebut dan tentunya kebutuhan ku pun kian hari kian bertambah. Dunia seolah-olah begitu sempit, hanya dalam sepekan aku bahkan dapat mengelilingi Negara ku, perjalanan dinas. Kemanapun aku pergi, aku selalu disanjung dengan fasilitas yang mewah. Tak lupa keluarga ku pun mendapat jipratan atas kesuksesanku, berawal dari rumah tipe 21 kemudian aku sulap menjadi tipe 72 yang memiliki dua lantai.

Waktu berselang, aku mulai merasa ada yang hilang dari diriku. Aku tidak dapat bersosialisai dengan warga kompleks ku, bahkan aku sama sekali tidak mengenal tetangga rumahku. Ketika membuka buku-buku sewaktu kuliah dulu, aku bahkan tak mengerti dan dibuat pusing. Tentu saja dalam kondisi tersebut membuatku tak ingin berlama-lama dengan buku tersebut. Yang ada dalam benakku hanya bagaimana sesegera mungkin menyelesaikan pekerjaan kantor dan mendapatkan karir yang lebih cemerlang.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dan mengatakan “bang, mau turun dimana ? ini sudah malam”. Aku pun serentak turun dan membayar uang angkot. Sesampai dirumah aku langsung terlentang dikasur, mungkinkah dengan menggunakan transportasi umum aku dapat mengenang masa-masa kuliah dulu atau bahkan dapat merasakan penderitaan orang-rang kecil ?

Aku terancam kacau untuk jangka waktu yang tidak kuketahui. Aku orang yang sangat lelah, juga marah. Marah melihat keadaan.
Lalu semua kembali menjadi hening dan tenang. Tubuh dengan kesadaran yang ringan  menyertai kepergianku…
Dalam hidupku, aku hanya punya satu kesimpulan besar; pergi….

11 July 2012,
diwaktu yang begitu sunyi...
 

Lorem

Ipsum

Dolor