life is a big joke

Jangan biarkan ide muw usang dimakan waktu, tuangkanlah dalam goresan tinta keabadian.....

Pagi yang mendung

Kamis, 12 Juli 2012


Malam ini seperti sebuah pagi yang mendung, segera kulangkahkan kakiku menuju rumah. Diatas angkutan umum kota, hujan deras tampak membasahi jalanan kota yang begitu pengap, tak lupa kepulan asap dari keringat buruh kuhempaskan. Aku berpikir keras, aku belum bisa menjamin apakah keadaan ku akan baik-baik saja setelah malam ini. Entah mengapa, aku merasa akan ada banyak hal buruk semenjak malam ini. Seperti sebuah siklus kutukan. Badai pasti akan reda, tapi pasti akan ada badai lagi.

Telepon dalam tas ku berdering kembali, tapi dari nomor yang berbeda. Aku ragu, aku mau menerimanya, tapi tiba-tiba terlintas pikiran, kalau kamu tidak menerima telepon itu, yang menelpon barusan akan menghubungimu kembali, Terima saja !. Aku segera menerima telepon itu, tapi lagi-lagi, telepon itu mati. Tak ada sedikit suara pun diseberang. Itulah takdir bagi para peragu, tidak bisa mengambil tindakan tepat.

Yah, menurutku apa yang kamu makan akan berpengaruh besar dengan apa yang kamu pikir dan akan berpengaruh besar terhadap keseluruhan hal yang kamu kerjakan. Sebut saja namaku anton, usiaku kini menginjak seperempat abad. Teman-teman sering memanggilku kedar, kekar dada rata, namun dalam mitologi bangsa yahudi, kerda merupakan suatu bangsa yang terletak dibagian paling timur dunia yang menjadi penghalang masuknya “tuhan” bangsa yahudi. Didaerah tersebut merupakan daerah yang memiliki kekayaan berlimpah sekaligus pintu masuk yang dimukimi bangsa yahudi. Namun, hal ini berubah ketika bangsa kedar menjajah bangsa yahudi yang tinggal didaerah tersebut.

Kembali ke laptop…

Sewaktu SMA, aku bersekolah disalah satu sekolah terbaik dikampungku, bandung. Disana aku mempunyai sahabat yang bernama ajeng, nama yang khas untuk orang yang berasal dari pulau tersebut. Kami berdua merupakan siswa teladan dan telah mendapatkan begitu banyak prestasi. Mulai dari olimpiade (kimia) tingkat daerah sampai ke tingkat nasional. Ketika olimpiade nasional, aku menduduki peringkat kedua dan teman ku lah yang menjadi jawaranya. Kami begitu bangga membawa pulang piala tersebut kesekolah kami. Selang waktu berlangsung, temanku kemudian melanjutkan kuliahnya ke eropa, beasiswa dari pemerintah setempat, sedangkan aku lebih memilih melanjutkan kuliah ku di universitas gajah mada jurusan kimia. Pertimbangan dekat dengan keluarga merupakan alasan utamanya.

empat tahun berselang aku pun menyelesaikan kuliahku dan langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan asing yang beroperasi dinegaraku. Penghasilanku cukup lumayan, setidaknya setiap bulan ada yang tersimpan dalam tabunganku. Bahkan aku mendapatkan fasilitas rumah dan kendaraan pribadi. Karirku menanjak drastis, empat tahun setelah aku bekerja, aku kemudian dipercayakan menjadi sebagai kepala manajer diperusahaan tersebut dan tentunya kebutuhan ku pun kian hari kian bertambah. Dunia seolah-olah begitu sempit, hanya dalam sepekan aku bahkan dapat mengelilingi Negara ku, perjalanan dinas. Kemanapun aku pergi, aku selalu disanjung dengan fasilitas yang mewah. Tak lupa keluarga ku pun mendapat jipratan atas kesuksesanku, berawal dari rumah tipe 21 kemudian aku sulap menjadi tipe 72 yang memiliki dua lantai.

Waktu berselang, aku mulai merasa ada yang hilang dari diriku. Aku tidak dapat bersosialisai dengan warga kompleks ku, bahkan aku sama sekali tidak mengenal tetangga rumahku. Ketika membuka buku-buku sewaktu kuliah dulu, aku bahkan tak mengerti dan dibuat pusing. Tentu saja dalam kondisi tersebut membuatku tak ingin berlama-lama dengan buku tersebut. Yang ada dalam benakku hanya bagaimana sesegera mungkin menyelesaikan pekerjaan kantor dan mendapatkan karir yang lebih cemerlang.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dan mengatakan “bang, mau turun dimana ? ini sudah malam”. Aku pun serentak turun dan membayar uang angkot. Sesampai dirumah aku langsung terlentang dikasur, mungkinkah dengan menggunakan transportasi umum aku dapat mengenang masa-masa kuliah dulu atau bahkan dapat merasakan penderitaan orang-rang kecil ?

Aku terancam kacau untuk jangka waktu yang tidak kuketahui. Aku orang yang sangat lelah, juga marah. Marah melihat keadaan.
Lalu semua kembali menjadi hening dan tenang. Tubuh dengan kesadaran yang ringan  menyertai kepergianku…
Dalam hidupku, aku hanya punya satu kesimpulan besar; pergi….

11 July 2012,
diwaktu yang begitu sunyi...

0 komentar:

Posting Komentar

 

Lorem

Ipsum

Dolor